Jumat, 13 Februari 2026

Donald Trump Cabut Kebijakan Iklim AS Era Obama, Gelombang Kritik Menguat

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Barack Obama Presiden Amerika Serikat ke-44. Foto: CNBC

Pembatalan keputusan ilmiah Endangerment Finding era Barack Obama Presiden Amerika Serikat ke-44, untuk mengurangi gas-gas penyebab pemanasan global, menuai beragam kritikan dan menimbulkan kekhawatiran.

Salah satu yang mengomentari perubahan aturan tersebut adalah Obama. Presiden AS ke-44 itu menyoroti sisi kesehatan sebagai dampak keputusan tersebut.

“Tanpa itu, kita akan kurang aman, kurang sehat, dan kurang mampu melawan perubahan iklim. Semua itu agar industri bahan bakar fosil dapat menghasilkan lebih banyak uang,” ungkap Obama, Kamis (12/2/2026).

Penelitian Endangerment Finding yang jadi landasan kebijakan iklim AS mengungkap, sejumlah gas rumah kaca merupakan ancaman bagi kesehatan masyarakat. Penelitian itu juga tegas menyatakan polusi membahayakan kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Namun penelitian yang dijadikan landasan mengurangi emisi kendaraan, pembangkit listrik, dan sumber gas rumah kaca itu, justru dibatalkan Environmental Protection Agency (EPA), Kamis (12/2/2026). Pembatalan dilakukan untuk mendorong sektor ekonomi, khususnya meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil, yang menurunkan biaya energi dan meningkatkan konsumsi.

Respon Negatif Pembatalan Kebijakan Terkait Perubahan Iklim di AS

Melansir BBC, kelompok-kelompok lingkungan mengecam langkah Trump tersebut, karena dianggap sebagai kemunduran paling signifikan dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Mereka juga siap menantang Trump di pengadilan.

Meski begitu, pejabat di pemerintahan Trump bersikeras, pencabutan aturan bisa menghemat lebih dari $1 triliun dan akan membantu menurunkan harga energi dan transportasi. Karoline Leavitt sekretaris pers Gedung Putih mengatakan pembatalan penelitian akan mengurangi pengeluaran produsen mobil sebesar 2.400 dolar AS per kendaraan.

Tapi Peter Zalzal dari Environmental Defense Fund mengungkap keraguannya akan klaim penghematan tersebut. Katanya, dampak dari sisi kesehatan besar.

“Kami juga telah menganalisis dampak kesehatan dan menemukan bahwa tindakan tersebut akan mengakibatkan hingga 58.000 kematian dini tambahan, dan 37 juta serangan asma tambahan,” ungkapnya.

Selain dari sisi kesehatan, dari sisi pengeluaran juga dinilai kurang efisien.

“Hal ini akan memaksa warga Amerika untuk mengeluarkan lebih banyak uang, sekitar $1,4 triliun untuk biaya bahan bakar tambahan guna menggerakkan kendaraan yang kurang efisien dan lebih berpolusi ini,” pungkasnya.

Dari sisi otomotif, Michael Gerrard, seorang ahli hukum iklim dari Universitas Columbia mengatakan, sebagian industri mengkhawatirkan aturan pencabutan kebijakan terkait perubahan iklim bisa membatasi penjualan mereka di luar negeri.

“Pencabutan kebijakan ini seolah-olah mengukuhkan hal-hal yang telah dilakukan sebelumnya, seperti pelonggaran standar efisiensi bahan bakar. Namun hal ini benar-benar menempatkan produsen mobil AS dalam posisi sulit, karena tidak ada negara lain yang mau membeli mobil Amerika,” ungkap Gerrard.(lea/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Jumat, 13 Februari 2026
31o
Kurs