Jumat, 11 September 2026

Dorong Ekosistem Literasi, Dispusip Surabaya Terima Buku Karya Murid untuk Perpustakaan Kota

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya menerima tiga buku karya murid Sampoerna Academy Surabaya untuk Perpustakaan Umum Surabaya dan Taman Baca Masyarakat (TBM) Surabaya, Jumat (11/9/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya mendorong penguatan budaya literasi anak tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi juga dilanjutkan dengan memahami, mengeksplorasi, dan mengolah pengetahuan menjadi sebuah karya.

Novelija Sekretaris Dispusip Kota Surabaya, mengatakan penguatan budaya literasi membutuhkan kolaborasi antara sekolah dengan perpustakaan dan Taman Baca Masyarakat (TBM).

“Budaya literasi membutuhkan ekosistem, di mana sekolah dan perpustakaan memiliki peran yang saling melengkapi. Sekolah membangun proses belajar yang terstruktur, sementara perpustakaan menyediakan akses terhadap sumber belajar sekaligus ruang bagi anak untuk bereksplorasi,” katanya saat menerima penyerahan buku karya murid Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya untuk Perpustakaan Umum Surabaya dan TBM Surabaya, Jumat (11/9/2026).

Karya murid yang diserahkan ke perpustakaan umum Kota Surabaya terdapat tiga judul buku, yakni “Minggu yang Menyenangkan” karya Alicia Georgia Marcia Oscar untuk jenjang primary, “Panen Kekuatan Rahasia” karya Aireen Angelie Effendy, serta “Di antara Ombak dan Bisikan” karya Annabel Gladys Tjipto untuk jenjang secondary.

Ketiga buku tersebut merupakan hasil Writing Competition yang diselenggarakan melalui pembelajaran Bahasa Indonesia dan Projek Co-Curricular. Karya yang terpilih kemudian dikembangkan bersama guru melalui proses pengembangan ide, penulisan, hingga revisi.

“Karya siswa yang kami terima hari ini bukan sekadar menjadi koleksi, tetapi juga bagian dari ruang belajar yang dapat dibaca dan menginspirasi anak-anak lainnya,” katanya.

Ia berharap kolaborasi antara sekolah, perpustakaan, dan TBM bisa terus dikembangkan untuk memperluas akses bacaan sekaligus membangun kemampuan literasi anak secara lebih menyeluruh.

“Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berkembang, sehingga anak-anak tidak hanya memiliki kebiasaan membaca, tetapi juga mampu memahami, mengeksplorasi, dan berani menghasilkan karya,” ujarnya.

Sementara itu, Maharsi Palupining Rini National Principal Sampoerna Academy Surabaya, mengatakan kemampuan literasi perlu dibangun sebagai bagian dari proses belajar yang dekat dengan kehidupan siswa.

“Kami ingin mengajak siswa melihat literasi bukan hanya tentang seberapa banyak anak membaca, tetapi juga tentang seberapa baik mereka memahami, menginterpretasikan, dan memaknai apa yang dibaca. Dari situ, siswa dapat memperluas wawasan, melihat perspektif baru, dan menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan di sekitarnya,” ujar Palupi.

Menurutnya, proses tersebut perlu diterapkan melalui kebiasaan “Gemar Belajar” yang menjadi bagian dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, gerakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sehingga murid tidak hanya membaca, tetapi juga diajak berdiskusi, berefleksi, mengeksplorasi ide, serta menuangkan pemahaman dalam bentuk tulisan dan karya kreatif.

Pembelajaran tersebut, lanjut dia, juga didukung pendekatan STEAM dan 5C, yakni Creativity, Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Character.

Palupi mengatakan proses menghasilkan buku juga memberikan pengalaman bagi murid untuk mengembangkan ide, menerima masukan, dan menyempurnakan tulisan tanpa kehilangan karakter serta suara mereka.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kami untuk menumbuhkan kebiasaan belajar yang dapat dibawa siswa dalam perjalanan mereka ke depan. Kami berharap literasi dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kepercayaan diri, dan keberanian siswa untuk terus mengeksplorasi hal-hal baru, sehingga mereka tumbuh sebagai pembelajar yang aktif dan mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menciptakan sesuatu yang bermakna,” katanya.

Ia menyatakan, penguatan literasi menjadi semakin penting di tengah luasnya akses anak terhadap informasi, baik melalui buku, internet, media sosial, maupun berbagai platform digital.

Seperti diketahui, berdasarkan Asesmen Nasional 2025, proporsi murid SD/MI yang mencapai kompetensi minimum literasi membaca berada di angka 55,7 persen. Kondisi tersebut menunjukkan penguatan literasi masih perlu dilakukan sejak dini, termasuk dengan membangun kebiasaan belajar yang mendorong anak tidak hanya membaca, tetapi juga memahami dan mengolah informasi yang mereka temukan.(ris/faz)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Jumat, 11 September 2026
28o
Kurs