Kamis, 25 Juni 2026

Gempa Susulan Masih Terjadi di Palu, Warga Masih Tidur di Luar Rumah karena Trauma

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Petugas gabungan membangun masjid darurat atas inisiasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI di Desa Kamarora A, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang terdampak bencana gempa bumi beberapa waktu lalu. Foto: Antara/ Basnaz

Gempa susulan dilaporkan masih terus terjadi di Kota Palu dan sejumlah wilayah sekitarnya, pascagempa bumi yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa 16 Juni lalu. Akibatnya, banyak warga di sejumlah titik terdampak masih bertahan di luar rumah karena khawatir terjadi gempa susulan lebih besar.

Hal itu disampaikan Susanto, Ketua Relawan Nusantara Penanggulangan Bencana (RNPB) LMI kepada Radio Suara Surabaya, Kamis (26/6/2026) malam.

Dia menceritakan, gempa susulan dengan skala kecil masih terasa hampir setiap hari. Salah satu gempa susulan yang cukup kuat terjadi setelah waktu salat subuh, dengan kekuatan Magnitudo 4,6.

“Bahkan pada waktu kami selesai salat subuh saja kemarin itu cukup besar ya. Itu skalanya 46, 4,6. Itu lumayan itu masyarakat Kota Palu banyak yang keluar,” kata Susanto saat on air dari Kota Palu, Kamis.

Susanto menyampaikan, kondisi Kota Palu saat ini sebetulnya relatif kondusif. Dampak gempa di wilayah kota tidak separah beberapa daerah lain. Kerusakan paling parah dilaporkan terjadi di Kabupaten Sigi, khususnya Desa Kadidia, Desa Kamarora A, dan Desa Kamarora B.

Di wilayah tersebut, kata Susanto, banyak rumah warga rusak berat hingga rata dengan tanah dan tidak memungkinkan untuk ditempati kembali. Susanto menyebut warga terdampak membutuhkan tenda, terpal, selimut, air bersih, obat-obatan, dan makanan siap saji.

“Yang paling besar itu yang banyak rumah-rumah hancur ini, hancur rata ya. Hancur rata dan tidak dan tidak mungkin bisa ditempati kembali. Itu ada di Desa Kadidia dan desa Kamarora A dan Kamarora B. Itu banyak sekali yang sudah tidak bisa di untuk ditempatin,” lanjut Susanto.

Adapun gempa utama dilaporkan berkekuatan hingga Magnitudo 7,6 dengan pusat gempa di darat, tepatnya kawasan pegunungan. Kondisi ini berbeda dengan gempa besar yang mengguncang Palu pada 2018 lalu, yang pusat gempanya berada di laut.

Sampai saat ini, menurut Susanto, sekitar 6.000 kepala keluarga (KK) dilaporkan terdampak di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Poso. Di Kabupaten Sigi, tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa.

Susanto mengatakan, banyak warga belum berani tidur di dalam rumah, meskipun bangunan rumahnya masih berdiri. Hal itu karena sebagian rumah mengalami retak dan warga masih trauma dengan gempa susulan.

“Sampai hari ini itu masyarakat tidak ada yang berani untuk tidur di rumah, walaupun rumahnya masih ada, tapi dengan kondisi yang banyak retak gitu ya, dan sangat mengkhawatirkan, akhirnya mereka lebih banyak berani tidur di luar. Makanya itu tenda itu sangat dibutuhkan gitu ya,” jelasnya.

Kebutuhan tenda itu menurutnya sangat mendesak karena hujan masih turun di sejumlah wilayah terdampak. Selain itu, akses menuju beberapa lokasi cukup jauh karena berada di kawasan pegunungan.

Dari sisi infrastruktur, Susanto menyebut aliran listrik dan air bersih di Kota Palu mulai berangsur normal, meskipun masih bertahap. Jembatan Palu yang sempat ditutup karena retak, kini juga sudah mulai bisa dilalui kendaraan.

“Kalau yang ini (listrik) alhamdulillah sudah sudah agak normal ya. Walaupun ada pembagian. Tapi sudah alhamdulillah relatif aman. Untuk air yang kemarin sulit juga sekarang sudah bisa apa lancar kembali walaupun masih bertahap ya, dengan bantuan-bantuan para donatur, logistik-logistik air masih terus berjalan,” katanya.

RNPB LMI juga sudah mengerahkan relawan lokal sejak awal menerima informasi gempa. Susanto mengatakan, para relawan melakukan asesmen di beberapa titik terdampak untuk mengetahui kebutuhan mendesak warga.

“Jadi pada waktu tanggal 16 itu kita semua ya dapat informasi masih terkait adanya gempa di Palu, maka pada saat itu juga kami langsung berkoordinasi dengan teman-teman relawan lokal terlebih dahulu untuk melakukan asessment,” ujarnya.

Bahkan, meski relawan-relawan lokal itu juga berstatus penyintas gempa, namun mereka tetap turun membantu warga terdampak karena memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat di Palu dan sekitarnya.

“Tapi mereka dengan rasa kepedulian yang tinggi mereka mau tetap untuk membantu saudara-saudaranya yang ada di Palu dan sekitarnya,” kata Susanto.

Setelah asesmen dilakukan, bantuan mulai diarahkan sesuai kebutuhan di lapangan. Untuk tahap awal, bantuan yang paling dibutuhkan adalah tenda, terpal, selimut, air bersih, obat-obatan, dan makanan siap saji.

“Yang pertama itu adalah tenda gitu ya, tenda, terpal, selimut karena memang mereka sudah tidak bisa lagi untuk masuk gitu kan. Nah, terus kemudian ada di berapa titik di sana itu ada yang malah air susah gitu kan, itu yang utama dan banyak juga obat-obatan karena banyak yang terluka gitu. Terus kemudian ya pastinya makanan siap saji ya. Jadi pada waktu itu sudah tim langsung membawa logistik yang dibutuhkan,” jelasnya.

Susanto menyebut penanganan bencana dilakukan bersama sejumlah unsur, termasuk TNI, Polri, pemerintah daerah, dan para donatur. Pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota juga sudah turun langsung memantau kondisi warga terdampak. Ia berharap proses pemulihan dapat berjalan lancar dan bantuan yang diberikan bisa memenuhi kebutuhan warga di lokasi terdampak. (bil/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Kamis, 25 Juni 2026
28o
Kurs