Getaran akibat banjir lahar hujan Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, terekam selama hampir empat jam pada Jumat (30/10/2026) malam.
Meski demikian, kejadian tersebut tidak mengganggu aktivitas masyarakat di kawasan lereng gunung, tetapi berdampak pada pembangunan sabo dam di Curah Kobokan.
Isnugroho Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mengatakan, peningkatan debit air akibat hujan deras membuat proses pembangunan infrastruktur pengendali lahar tersebut terganggu.
“Aktivitas masyarakat lancar, namun pembangunan sabo dam Curah Kobokan terganggu akibat debit air meningkat,” kata Isnugroho dilansir dari Antara, Sabtu (31/10/2026).
Berdasarkan pengamatan aktivitas Gunung Semeru selama periode 24 jam pada Jumat (30/10/2026), tercatat satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo maksimum 50 milimeter. Getaran tersebut berlangsung selama 13.524 detik atau sekitar 3 jam 45 menit.
Hujan deras yang mengguyur kawasan Gunung Semeru turut meningkatkan debit air di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) yang berhulu di gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.
Isnugroho mengatakan petugas terus memantau aktivitas Gunung Semeru, termasuk mendeteksi potensi banjir lahar hujan.
Informasi dari hasil pemantauan akan segera diteruskan kepada masyarakat agar dapat meningkatkan kewaspadaan, khususnya warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai.
“Petugas selalu memantau aktivitas Gunung Semeru. Ketika terekam getaran banjir lahar Semeru dengan intensitas curah hujan tinggi, maka informasi tersebut akan diteruskan kepada masyarakat dan diimbau untuk berhati-hati, terutama yang berada di sekitar bantaran sungai,” ujarnya.
Selain getaran banjir, aktivitas Gunung Semeru selama periode pengamatan yang sama juga mencatat 88 kali gempa letusan atau erupsi, dua kali gempa harmonik, delapan kali gempa guguran, empat kali gempa tektonik jauh, serta 10 kali gempa embusan.
Saat ini, Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan sejumlah rekomendasi untuk mengantisipasi potensi bahaya aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Selain itu, aktivitas juga dilarang dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
“Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” kata Isnugroho.
BPBD Lumajang juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai ancaman awan panas, guguran lava, dan banjir lahar di sepanjang aliran sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. (ant/saf/faz)
NOW ON AIR SSFM 100

