Suara tersebut dapat berasal dari ekspansi cepat pelepasan gas, serta gesekan dan turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di dalam konduit atau lubang kepundan.
“Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun beberapa wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas,” ujarnya dilansir dari Antara.
Lana menjelaskan, gelombang suara atau tekanan udara berfrekuensi rendah dapat merambat hingga ratusan kilometer melalui atmosfer.
Kondisi atmosfer, termasuk angin, suhu, dan tekanan udara pada ketinggian tertentu, dapat membelokkan atau membiaskan jalur gelombang suara sehingga kembali mencapai permukaan di lokasi yang jauh dari sumbernya.
“Hingga suara bisa turun kembali jauh dari sumber. Yang terasa di Bandung yang berjarak 700 km (garis lurus) adalah dentuman, kaca dan pintu bergetar,” ucapnya.

NOW ON AIR SSFM 100

