“Sifat teratogenik virus Zika sangat kuat dalam memantik kecacatan janin, terutama bila penularannya terjadi saat trimester pertama kehamilan,” jelas Ari.
Meski Zika dan Dengue ditularkan oleh jenis nyamuk yang sama, dampaknya terhadap kehamilan tidak sepenuhnya serupa. dr. Ari menjelaskan sampai sekarang belum ada bukti ilmiah bahwa dengue memiliki efek teratogenik seperti Zika. Tapi infeksi dengue pada ibu hamil tetap bisa membawa risiko lain.
“Misalnya dapat memantik persalinan prematur. Risiko lainnya bisa berupa berat badan lahir rendah (BBLR), gawat janin, atau perdarahan hebat pada ibu. Komplikasi bisa terjadi, jika terinfeksi berat menjelang waktu persalinan,” ungkapnya.
Zika juga memiliki risiko komplikasi lain meski tergolong jarang. Pada individu dewasa yang rentan, infeksi bisa memicu reaksi autoimun yang menyerang saraf tepi. Gejalanya bisa berupa kelemahan otot kaki, kesemutan, hingga kelumpuhan yang cepat menjalar. Kondisi itu dikenal sebagai Guillain-Barre Syndrome (GBS).
Kemiripan struktur antigen Zika dan Dengue juga menjadi tantangan dalam diagnosis, terutama di negara seperti Indonesia yang merupakan daerah endemis Dengue. Menurutnya, pemeriksaan antibodi bisa menghasilkan reaksi silang. Antibodi terhadap Dengue dapat terlihat reaktif terhadap Zika, begitu pula sebaliknya.

NOW ON AIR SSFM 100

