Program pengembangan kapasitas International Technology and Engineering Conference (ITEC) 2026 akan memperluas kuota peserta dari Indonesia. Pemerintah India melalui perwakilannya di Tanah Air menargetkan 150 peserta pada 2026, meningkat dari kuota sebelumnya sebanyak 100 orang per tahun.
“Mulai tahun 2026 rencana mau tambahin jumlahnya sekitar 150 orang. Khusus untuk Jawa Timur sama Jawa Tengah, kita punya rencana mau kirim 20 masing-masing. Berarti sekitar 40 orang yang mulai dari tahun ini, kita bisa rekomendasikan yang pergi ke India,” kata Manoj Bhat Konsul Kehormatan India untuk Indonesia dalam “Sosialisasi dan Permohonan Rekomendasi Kepesertaan ITEC 2026” di Surabaya, Sabtu (14/2/2026).
Durasi program mulai dari enam hari hingga enam minggu. Peserta bakal mengasah kemampuan dari berbagai bidang, sambil mengenal kebudayaan India.
“Ada banyak sekali (bidang dalam program skill development ITEC) seperti bahasa, seperti administrasi, seperti akuntansi, IT. Banyak sekali nanti. Teman dari Indonesia kalau pergi ke India, mereka bisa merasakan bagaimana India, bagaimana suasana di sana, bagaimana budaya sana dan sekaligus bisa memajukan diri dengan kursus pendidikan,” katanya.
Syarat terpenting mengikuti ITEC adalah bisa berbahasa Inggris dan mendapatkan izin dari institusi tempat peserta bekerja.
“India jalannya (program ITEC 2026) mulai dari bulan April. Itu biayai semua oleh pemerintah India. Kebanyakan dari sini ke New Delhi, Mumbai, Hyderabad, Mysore, ada juga yang ke Assam,” terangnya.
Berdasarkan pengalaman Anita Nofiana peserta ITEC 2025 dari Disnaker Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, program skill development di India sangat bermanfaat, khususnya untuk mempelajari sistem pelayanan publik yang terintegrasi dan manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat.
“Jadi tidak ada di India itu keluhan, bahwa saya enggak bisa mengakses servis atau credit. Misalnya karena dia tidak punya akses internet, dia tidak punya handphone canggih. Jadi mereka punya partner center (yang membantu masyarakat) dan kami amazing ya. Ketika pemerintahnya mencanangkan sebuah program yang harus sampai bawah, itu running-nya cepat ,” kata Anita.
Sedangkan Nancy Matasik peserta ITEC 2025 dari BP3MI Jatim mengatakan Indonesia bisa mencontoh inklusi keuangan di India.
“Inklusi keuangan itu bagaimana semua masyarakat bisa mengakses layanan keuangan tanpa terkecuali. Jadi walaupun masyarakat miskin bisa mengakses,” tuturnya.
Tidak hanya belajar dan meningkatkan kemampuan, peserta program ITEC di India juga diberikan uang saku, serta diberikan kesempatan berjalan-jalan dan lebih mengenal India. Misalnya pergi jalan-jalan ke Taj Mahal di Agra, India. (lea/saf/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
