Kamis, 8 Oktober 2026

ISPA di Jatim Meningkat, Laporan Tertinggi Capai 212 Ribu Kasus di Agustus 2026

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Ilustrasi, ISPA. Foto: Istimewa

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Jawa Timur mengalami peningkatan pada tahun 2026 dibanding temuan pada tahun lalu.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, kasus ISPA tahun 2026 rata-rata mencapai sekitar 151.750 kasus per bulan.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata bulanan tahun 2025 yang mencapai sekitar 111.393 kasus perbulan.

Sementara itu laporan tertinggi terjadi pada Agustus 2026 yang mencapai 212.914 kasus. Jumlah tersebut menjadi angka bulanan tertinggi sepanjang periode Januari–September 2026.

Dinkes Jatim juga mendata terdapat lima daerah dengan jumlah laporan kasus ISPA tertinggi pada periode Januari–September 2026. Antara lain Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Lamongan, Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Sementara itu dokter Erwin Astha Triyono Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim menjelaskan, ISPA merupakan infeksi pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh berbagai infeksi meliputi virus, bakteri, atau kuman lainnya.

“Gejala ISPA bisa berupa demam akut, batuk, sakit tenggorokan dan pilek,” ujar Erwin, Kamis (8/10/2026).

Sedangkan penularan ISPA kerap terjadi melalui udara yang mengandung droplet dari batuk, bersin atau kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi.

Erwin mengatakan, sebagian besar ISPA terutama yang disebabkan oleh virus, dapat sembuh dengan sendirinya atau bersifat self-limiting. Pada kondisi tersebut tubuh memiliki kemampuan untuk melawan infeksi.

Namun Erwin menyebut terdapat kondisi tubuh tertentu yang membutuhkan perhatian medis apabila terjangkit ISPA, yakni pada kelompok berisiko seperti balita, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta atau komorbid.

“ISPA akut umumnya berlangsung kurang dari 14 hari. Namun, apabila kondisi semakin berat, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut karena ISPA tidak selalu merupakan penyakit ringan atau belum diketahui penyebabnya secara jelas,” ucapnya.

Di sisi lain terdapat berbagai faktor yang turut mempengaruhi peningkatan ISPA di Jatim. Erwin menyebut dampak musim kemarau dengan curah hujan rendah dapat menyebabkan pencucian polutan di udara oleh proses rain washing menjadi berkurang.

Menurut dia, kondisi udara yang panas dan relatif kering dapat mempengaruhi stabilitas aerosol serta pertahanan mukosa saluran napas.

“Sehingga bisa menjadi salah satu potensi dalam transmisi virus penyebab infeksi saluran pernapasan,” tandasnya.(wld/fia/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Kamis, 8 Oktober 2026
34o
Kurs