“Faktor kelalaian manusia seperti kasus pengunjung menggunakan flare untuk keperluan foto prapernikahan yang memicu percikan api kemudian terjadi kebakaran hebat di kawasan Bromo pada 6 September 2023,” ujar dia.
Selain penggunaan flare, wisatawan yang membuang puntung rokok sembarangan di area savana maupun lupa mematikan sisa perapian atau api unggun juga disebut kerap menjadi sumber kebakaran di Gunung Bromo.
Pada musim kemarau dengan suhu panas ekstrem disertai angin kencang, percikan api kecil dapat cepat merambat dan membesar di padang savana yang kering sehingga sulit dikendalikan.
Oleh karena itu, penguatan ke depan perlu menitikberatkan kepada pencegahan melalui peningkatan edukasi wisatawan, pengawasan di titik rawan kebakaran, penegakan larangan aktivitas yang menggunakan api atau benda pemicu api, serta penyampaian informasi risiko secara lebih jelas sebelum wisatawan memasuki kawasan.
Pengelola kawasan juga dinilai perlu memperkuat kesiapsiagaan pada periode rawan, khususnya saat musim kemarau, melalui pemantauan kondisi lapangan, kesiapan sarana pemadaman awal, jalur evakuasi, prosedur penutupan sementara area berisiko, serta koordinasi cepat dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aparat dan instansi terkait apabila ditemukan indikasi kebakaran.

NOW ON AIR SSFM 100

