“Nah untuk mengobati rasa kesepian sang anak, ibunda Joko Berek meminta bantuan kepada seorang nenek di Rawa Wiyung untuk memberikan seekor anak ayam yang kemudian diberi nama Bagong. Ayam itu setia menemani Joko Berek ke mana pun pergi hingga saat ini dijadikan patung di kawasan Wiyung,” ungkapnya.
Tanda-tanda kehebatan Joko Berek, lanjut Cak Moel, mulai terlihat saat berusia belasan tahun. Saat itu warga di daerah Warugunung mengalami krisis air bersih. Joko Berek kemudian menunjuk sebuah bukit sebagai sumber air dan diberi nama Sumur Bumi.
Saat dewasa, Joko Berek memutuskan pergi ke Kadipaten Surabaya untuk mencari ayahnya.
Perjalanan Joko Berek tidak mulus karena dihalangi oleh saudara tirinya, Sawungrono dan Sawungsari. Pertemuan mereka bahkan sempat diwarnai adu jago yang kini populer dalam cerita ludruk Surabaya.
Setibanya di kadipaten, Joko Berek membuktikan silsilahnya dengan membawa kain cinde pemberian sang ibu.
NOW ON AIR SSFM 100

