Meski begitu, sang ayah tidak langsung mengakuinya dan memberikan ujian berat, yaitu merawat 144 ekor kuda kadipaten tanpa boleh ada satu pun yang mati. Joko Berek berhasil melewatinya dengan sempurna.
“Ujian Joko Berek masih berlanjut saat VOC dan Mataram berencana mengganti Adipati Jayengrono. Penggantian itu dilakukan melalui lomba memanah atau Jemparingan. Dari seluruh ksatria yang bertanding, hanya Joko Berek yang berhasil menembak sasaran hingga berhak menyandang gelar Adipati Sawunggaling,” jelasnya.
Meskipun memenangkan sayembara, lanjut Cak Moel, pihak lawan memberikan syarat tambahan yang sangat berat karena tahu Joko Berek adalah keturunan Jayengrono. Ia diperintahkan untuk membabat Alas Nambas Kelingan, sebuah hutan belantara yang terkenal sangat angker dan menjadi cikal bakal wilayah Surabaya.
Sementara itu, saat ini makam Sawunggaling yang berada di Jalan Lidah Wetan Tengah Surabaya merupakan makam yang sudah diberikan label Cagar Budaya.(kir/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

