Meski menyambut positif akuisisi tersebut, Mustolih mengingatkan bahwa investasi bernilai besar itu harus diikuti tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Ia meminta Danantara menjelaskan cetak biru pembangunan Kampung Haji Indonesia, peta jalan pengelolaan aset, model bisnis, serta proyeksi dampaknya terhadap kualitas layanan dan biaya haji maupun umrah.
“Publik berharap Danantara menjelaskan secara terbuka bagaimana aset ini akan dikelola, bagaimana pemanfaatannya bagi jemaah Indonesia, serta bagaimana proyeksi dampaknya terhadap kualitas pelayanan dan efisiensi biaya haji dan umrah,” ujarnya.
Menurutnya, dampak investasi perlu diukur melalui indikator yang jelas, seperti peningkatan kualitas akomodasi, kepastian ketersediaan kamar, efisiensi operasional, dan potensi penurunan komponen biaya yang ditanggung jemaah.
Ia juga berharap pembangunan Kampung Haji Indonesia membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha nasional, termasuk usaha kecil dan menengah (UKM), melalui keterlibatan dalam rantai pasok barang dan jasa.
NOW ON AIR SSFM 100

