Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan TFR Indonesia turun menjadi 2,13 anak per perempuan, sementara proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai 11,97 persen. Indonesia pun memasuki fase ageing population, dengan rasio ketergantungan meningkat menjadi 45,05 persen.
Kondisi tersebut menandakan keluarga semakin kecil di tengah jumlah penduduk lansia yang terus bertambah. Sementara anak sebagai penopang utama lansia juga semakin banyak tinggal jauh karena pendidikan dan pekerjaan.
Perubahan demografi tersebut meningkatkan beban generasi produktif, terutama sandwich generation yang harus memenuhi kebutuhan anak sekaligus orang tua. Beban perawatan juga banyak ditanggung perempuan dan dapat berdampak pada pekerjaan serta pendapatan mereka.
Karena itu, kesejahteraan lansia tidak semestinya hanya bergantung pada jumlah anak atau kemampuan keluarga, tetapi membutuhkan peran negara melalui penguatan jaminan pendapatan, layanan kesehatan dan long-term care, serta dukungan bagi keluarga dan caregiver.
Prof. Jenny Lukito Setiawan Guru Besar Psikologi Konseling Universitas Ciputra Surabaya mengatakan bahwa persoalan tersebut perlu segera dipikirkan karena generasi yang berada di tengah, harus menjalankan berbagai peran sekaligus.
“Generasi-generasi yang jadi sandwich generation ini mengalami satu tantangan juga. Itu yang perlu kita pikirkan,” kata Jenny dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Rabu (30/9/2026) pagi.
Menurutnya, situasi saat ini berbeda dengan kondisi generasi sebelumnya. Jika dahulu dalam banyak keluarga laki-laki menjadi pencari nafkah utama sementara perempuan lebih banyak berada di rumah, kini suami dan istri sama-sama bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Di sisi lain, perempuan juga semakin banyak memiliki pendidikan tinggi dan bekerja untuk mengembangkan diri sekaligus menopang ekonomi keluarga.
Akibatnya, perempuan yang berada dalam sandwich generation dapat menghadapi sejumlah tuntutan secara bersamaan, mulai dari pekerjaan, pengasuhan anak, pekerjaan rumah tangga hingga perawatan orang tua.
“Sekarang dia itu harus menanggung bukan hanya urusan ngurusin anak, ngurusin rumah, ngurusin pekerjaan juga. Tetapi dia juga harus mengurus orang tua,” ujarnya.
Jenny menilai tanggung jawab terhadap orang tua lanjut usia seharusnya tidak hanya dibebankan kepada anak perempuan. Anak laki-laki dan perempuan perlu berbagi peran dalam memberikan dukungan kepada orang tua.
Apalagi, jumlah anak yang lebih sedikit membuat pembagian tanggung jawab dalam keluarga menjadi semakin terbatas.
Menurut Jenny, persoalan sandwich generation juga tidak cukup diselesaikan di tingkat keluarga. Dunia kerja perlu menyediakan dukungan bagi pekerja yang memiliki tanggung jawab merawat orang tua.
Salah satunya melalui pola kerja yang lebih fleksibel maupun cuti khusus ketika orang tua mengalami kondisi kritis atau membutuhkan perawatan darurat.
Selain dukungan dari keluarga dan tempat kerja, Jenny menilai pemerintah perlu memperkuat kebijakan publik terkait perawatan lansia.
“Lansia-lansia ini perlu penanganan dari negara. Artinya ada perawatan, ada misalnya home care yang baik yang disediakan oleh negara atau layanan caregiver yang terjangkau,” jelasnya.
Layanan tersebut dinilai dapat membantu mengurangi beban generasi produktif yang harus membagi waktu antara pekerjaan, anak dan orang tua.
Namun, menurut Jenny, penguatan layanan perawatan lansia tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat atau tenaga caregiver. Kualitas layanan juga harus diperhatikan agar lansia tetap mendapatkan kehidupan sosial dan aktivitas yang sesuai dengan kondisi mereka.
Dia mencontohkan, perawatan lansia tidak seharusnya hanya sebatas memenuhi kebutuhan dasar seperti makan dan mandi.
“Jangan cuma ditaruh di situ. Mereka bisa merasa, ‘Kok kayak aku dibuang ya? Kok enggak berguna lagi ya?’” ujarnya.
Karena itu, fasilitas perawatan lansia perlu memiliki program yang mendukung aktivitas, perkembangan, serta interaksi sosial para penghuni.
Dengan demikian, keberadaan fasilitas tersebut tidak dipandang sebagai tempat untuk “menitipkan” orang tua, melainkan sebagai bagian dari sistem perawatan yang dapat membantu keluarga.
Jenny juga menilai pemerintah daerah dapat mempertimbangkan penyediaan fasilitas perawatan lansia yang layak dan dikelola secara serius, seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.
“Ini perlu dipikirkan dan enggak cuma sekadar ada. Harus lebih serius, ini adalah programnya apa,” katanya.
Perubahan cara pandang masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menghadapi peningkatan jumlah lansia. Jenny mengatakan masih terdapat stigma bahwa anak yang menempatkan orang tuanya di fasilitas perawatan lansia dianggap tidak berbakti atau tidak bertanggung jawab.
Padahal, menurut dia, keputusan tersebut tidak selalu berarti keluarga melepaskan tanggung jawab terhadap orang tua.
“Kita perlu menghapus stigma atau pandangan-pandangan yang negatif tersebut,” ujarnya.
Keluarga tetap dapat memberikan perhatian dengan mengatur kunjungan secara rutin. Dengan dukungan tenaga profesional dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, waktu kunjungan keluarga justru dapat digunakan untuk membangun interaksi yang lebih berkualitas bersama orang tua.
“Kalau kita berkunjung dengan teratur, paling enggak beban-beban rutinitas seharian kan kita sudah tertolong. Dan ketika kita datang berkunjung itu benar-benar bisa menikmati, malah punya waktu yang berkualitas,” jelas Jenny.
Jenny menambahkan, layanan jangka panjang atau long-term care bagi lansia di Indonesia masih perlu diperkuat. Menurut dia, layanan untuk lansia saat ini belum sebanyak dukungan dan fasilitas yang tersedia untuk anak-anak.
Selain menambah fasilitas, edukasi mengenai perawatan lansia juga perlu dilakukan melalui berbagai saluran, mulai dari lembaga keagamaan, tempat kerja hingga komunitas lansia.
“Perubahan mindset itu yang perlu kita kerjakan terutama. Karena kalau tidak dibarengi dengan perubahan mindset, maka kita sendiri mau menitipkan itu juga nanti orang ngomong apa,” katanya. (saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

