Lebih dari 413.000 pekerja dari berbagai sektor industri di Jerman menggelar aksi mogok kerja dan demonstrasi sepanjang pekan ini. Mereka menuntut kenaikan upah serta kepastian lapangan pekerjaan di tengah ketidakpastian kondisi industri.
Aksi tersebut diinisiasi serikat pekerja terbesar Jerman, IG Metall, setelah beberapa putaran perundingan dengan pihak pengusaha tidak menghasilkan kesepakatan. Gelombang aksi berlangsung sejak Minggu hingga Jumat dan tersebar di berbagai wilayah negara tersebut.
IG Metall mencatat, sedikitnya 413.000 pekerja berpartisipasi dalam aksi nasional tersebut. Jumlah itu mencakup lebih dari 2.800 aksi mogok kerja, yang sebagian besar berlangsung dalam skala kecil.
Nadine Boguslawski Kepala Negosiator IG Metall mengatakan, para pekerja memperjuangkan masa depan keluarga sekaligus keberlangsungan pekerjaan mereka.
“Mereka mengharapkan peningkatan daya beli yang nyata serta komitmen konkret dari para pengusaha untuk melindungi penciptaan nilai industri dan investasi,” kata Boguslawski, Jumat (6/11/2026).
Ia menambahkan, serikat pekerja telah mengajukan tawaran yang dinilai adil dan fleksibel. Kini, menurut dia, keputusan berada di tangan pihak pengusaha untuk memenuhi tuntutan tersebut.
Dilansir dari laman France24, perundingan antara serikat pekerja dan pengusaha dijadwalkan berlanjut pekan depan. Namun, IG Metall mengancam akan menggelar aksi mogok kerja dengan durasi lebih panjang apabila tuntutan pekerja tidak dipenuhi.
Dalam perundingan kali ini, tuntutan IG Metall mencakup kenaikan upah sebesar lima persen selama 12 bulan. Serikat pekerja juga meminta skema pembagian keuntungan bagi perusahaan yang mencatatkan kinerja positif serta jaminan keberlangsungan pekerjaan.
Sementara itu, tawaran dari pihak pengusaha sejauh ini berupa kenaikan upah sebesar 1,3 persen yang baru diberlakukan mulai pertengahan 2028, disertai pembayaran satu kali.
Perundingan tersebut mencakup lebih dari 3,7 juta pekerja yang berada dalam cakupan IG Metall. Mereka berasal dari beragam sektor, mulai dari industri otomotif, manufaktur kendaraan, hingga teknik mesin.
Kondisi industri yang menjadi bagian dari perundingan itu tidak sepenuhnya sama. Sektor otomotif beserta industri pemasoknya masih menghadapi tekanan bisnis. Sejumlah perusahaan bahkan berulang kali mengumumkan pengurangan tenaga kerja dan penutupan fasilitas produksi.
Sebaliknya, industri lain seperti penerbangan dan teknologi pertahanan justru menunjukkan pertumbuhan pesat. (saf)
NOW ON AIR SSFM 100

