Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) membawa semangat pembangunan berkelanjutan melalui logo Hari Jadi ke-81 Provinsi Jatim, yang diluncurkan dalam ajang Jatim Fest 2026 di Surabaya.
Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jatim mengatakan, logo itu lahir dari sayembara desain yang diikuti ratusan karya dari warga Jawa Timur (Jatim).
“Logo yang luar biasa, dan lahir dari sayembara desain, yang diikuti ratusan karya dari seluruh warga Jawa Timur,” kata Emil didampingi Aftabuddin Rijaluzzaman Plt Kepala Biro Perekonomian Jatim di Surabaya yang dikutip Antara, Minggu (4/10/2026).
Logo Hari Jadi ke-81 Provinsi Jatim sendiri mengusung tema “Jawa Timur Unggul, Maju dan Berkelanjutan”. Tema itu menggambarkan arah pembangunan Jatim yang tidak hanya mengejar kemajuan ekonomi, tapi juga keberlanjutan.
Emil mengatakan, semangat itu sejalan dengan upaya Pemprov Jatim membangun ekosistem perekonomian yang inklusif dan berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor.
“Ini adalah hasil perjuangan kolektif seluruh elemen lintas sektor untuk mendorong ekosistem perekonomian dan investasi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Emil, pembangunan ekonomi Jatim perlu diarahkan agar investasi yang masuk tidak hanya menghasilkan nilai nominal, tetapi juga memberi nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Ia menyebut Jatim memiliki basis ekonomi yang kuat, terutama dari sektor industri manufaktur yang menjadi salah satu penopang perekonomian regional.
“Hari ini kita fokuskan pada strategic policy-nya supaya terus memastikan Jawa Timur punya ekosistem yang kondusif. Jatim itu regional economy, industri yang paling menopang. Maka yang harus dijadikan fokus itu keunggulan dalam ekosistem perekonomian, terutamanya industri manufaktur yang ada di Jawa Timur,” katanya.
Emil menambahkan, penguatan industri perlu didukung ekosistem perdagangan, sumber daya manusia (SDM), infrastruktur, dan konektivitas yang memadai.
“Ekosistem perdagangan dan manufaktur itu beririsan. Kita membutuhkan SDM yang terdidik, masyarakat dan kondisi ekonomi yang memadai,” tuturnya.
Menurut Emil, potensi Jatim tersebar di berbagai wilayah. Potensi itu diperkuat dengan keberadaan bandara, pelabuhan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kawasan industri, hingga kawasan industri halal.
“Potensi Jawa Timur tersebar di seluruh penjuru. Tidak semuanya crowded. Kesempatannya ada, dan ini menciptakan peluang investasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, penguatan ekosistem tersebut menjadi bagian dari visi Gerbang Baru Nusantara. Visi itu diarahkan agar Jatim tidak hanya menjadi pintu masuk investasi, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.
“Gerbang Baru Nusantara menjadi strategi perwujudan menjadi orkestrator nilai tambah Indonesia. Kita harus bangun value added, menjadi lebih kompetitif,” ujarnya.
Emil mengajak seluruh instansi dan pemangku kepentingan sektor perekonomian untuk menjaga optimisme serta memperkuat kolaborasi. Hal itu dibutuhkan untuk mewujudkan pembangunan Jatim yang unggul, maju, dan berkelanjutan.
“Semangat kita Jer Basuki Mawa Beya. Kita kerjakan semuanya dengan keras, dengan optimisme, bagaikan simfoni orkestra. Jadi harus sama-sama optimis di seluruh instansi yang bergerak pada perekonomian,” katanya. (ant/bil/iss)

NOW ON AIR SSFM 100

