Selasa, 15 September 2026

Maba Umsura Sumbang Boneka hingga Popok untuk Korban Bencana NTT

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) dari berbagai daerah dan luar negeri menyumbangkan pampers hingga boneka untuk korban gempa NTT di lapangan Umsura, Surabaya, Senin (14/9/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Sebanyak 3.185 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menyumbangkan pembalut, popok, dan boneka untuk perempuan serta anak-anak korban bencana Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sejumlah kebutuhan yang kerap luput dari perhatian itu, disalurkan kepada korban bencana NTT melalui relawan mahasiswa Umsura dan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Jawa Timur.

Prof. Mundakir Rektor Umsura mengatakan, langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen kampus yang tidak hanya menggalang bantuan, tetapi juga menghadirkan mahasiswa secara langsung dalam proses pendampingan masyarakat terdampak bencana.

“Di sini membuka open recruitment Aksi Mahasiswa Tanggap Bencana (Matana) untuk NTT, jadi yang diberangkatkan nanti dari beragam jurusan dan tentu kegiatan ini akan dikonversikan sebagai agenda KKN,” katanya dalam pembukaan Mastama, Ordik, dan Expo UKM (MOX) 2026 di Umsura, Surabaya, pada (14/9/2026).

Mundakir menjelaskan, aksi kemanusiaan berfokus pada isu perempuan dan anak karena mereka merupakan kelompok rentan dalam situasi bencana seiring dengan mendesaknya kebutuhan dan risiko yang spesifik.

“Perempuan memiliki kebutuhan biologis yang tetap berlangsung dalam bencana. Menstruasi, kehamilan, persalinan, menyusui, dan kebutuhan kesehatan reproduksi tidak berhenti ketika terjadi bencana,” ucapnya.

Kondisi darurat itu, lanjut dia, menjadi lebih sulit karena keterbatasan akses terhadap air bersih, toilet, ruang privat, perlengkapan kebersihan, maupun layanan kesehatan yang dapat mengurangi rasa aman dan martabat perempuan di lokasi pengungsian.

Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa pembalut dan popok seharusnya tidak ditempatkan sebagai bantuan tambahan, melainkan menjadi bagian dari kebutuhan dasar dalam respons kebencanaan.

“Pembalut dan popok seharusnya masuk dalam bantuan dasar korban bencana, termasuk di NTT. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi menyangkut kesehatan, kebersihan, martabat, dan perlindungan kelompok rentan,” ucapnya.

Selain kebutuhan perempuan, perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak dengan menyumbang boneka. Ia menjelaskan boneka bukan semata-mata sebagai mainan, tetapi juga bagian dari dukungan psikososial anak yang mengalami situasi traumatis akibat bencana.

Ia mengingatkan, anak-anak korban bencana tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga, lingkungan bermain, sekolah, rutinitas, rasa aman, bahkan benda-benda yang selama ini memberikan kenyamanan.

“Dalam konteks psikologi kebencanaan, boneka dapat menjadi bagian dari dukungan psikososial. Boneka bisa menjadi media bagi anak untuk bercerita, bermain peran, memproyeksikan rasa takut atau marah, membuat cerita tentang bencana, atau sekadar memeluk ketika merasa cemas,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan bantuan kebencanaan perlu melihat kebutuhan spesifik masing-masing kelompok, bukan hanya dari kebutuhan yang bersifat umum.

“Perempuan dan anak merupakan kelompok rentan yang harus mendapatkan perhatian khusus dalam setiap tahapan penanganan agar bantuan dan perlindungan dapat diberikan secara tepat sasaran,” pungkasnya. (ris/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Selasa, 15 September 2026
27o
Kurs