Jumat, 1 Mei 2026

Tambah Dua Profesor, Umsura Dorong Perbaikan Kesehatan Mental dan Transformasi Pendidikan

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Pengukuhan dua guru besar Umsura, Surabaya, pada Kamis (30/4/2026). Foto: Umsura

Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) mengukuhkan profesor baru pada bidang ilmu keperawatan dan pembelajaran metakognitif di At-Tauhid Tower, Umsura, Surabaya, pada Kamis (30/4/2026).

Mundakir guru besar baru pada bidang keperawatan membahas masalah psikososial bertajuk “Bridging Psychosocial Gaps in Nursing: Knowledge Translation untuk Indonesia di Era Disrupsi”.

Menurutnya masalah psikososial tidak selalu berkaitan dengan gangguan jiwa berat, melainkan tekanan mental yang dialami masyarakat sehari-hari, seperti stres, depresi, merasa kesepian, hingga mudah marah.

“Psikososial itu adalah tekanan jiwa yang dialami masyarakat. Masalah itu sebenarnya banyak di masyarakat, namun tidak terdeteksi atau tidak dianggap serius,” katanya.

Dengan kondisi itu, ia menekankan pentingnya dukungan utuh dalam proses perawatan untuk memastikan penanganan psikososial.

Mundakir memperkenalkan konsep Triangulasi Psikososial yang dirancang khusus untuk konteks Indonesia, yakni berfokus pada penyembuhan pasien seutuhnya. Menurutnya, hal tersebut harus bertumpu pada tiga pilar, yakni kompetensi kultural, kolektivisme sosial melalui keluarga, serta spiritualitas sebagai sumber makna dan harapan.

“Keputusan medis di Indonesia jarang bersifat individual. Keluarga adalah mediator sekaligus sistem pendukung emosional utama. Sementara sakit kerap dimaknai sebagai ujian atau perjalanan spiritual. Bukan sekadar urusan agama formal, melainkan ketenangan batin melalui doa, zikir, atau meditasi,” ucapnya.

Sementara itu, Lia Listiana guru besar baru di bidang pembelajaran metakognitif menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya fokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga bisa membuat peserta didik memiliki kompetensi abad 21, seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.

“Di sinilah urgensi metakognitif menjadi sangat penting. Peserta didik tidak hanya belajar ‘apa’, tetapi juga ‘bagaimana mereka belajar’,” ucapnya.

Hal itu ia tegaskan, seiring dengan realitas pendidikan nasional yang masih menghadapi berbagai problematika, mulai dari pendekatan pembelajaran yang masih berpusat pada guru hingga rendahnya kemampuan reflektif peserta didik.

Sukadiono Ketua Senat Umsura berharap, peningkatan jumlah guru besar tersebut bisa meningkatkan dampak kampus di masyarakat

“Setiap tahun kita ada guru besar yang mendapat SK dari Mendiktisaintek. Capaian ini jangan berhenti sampai di sini,” pungkasnya.(ris/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Jumat, 1 Mei 2026
27o
Kurs