Minggu, 10 Mei 2026

Mengenal Dusun Patoman Tengah Banyuwangi, Kampung Hindu dengan Nuansa Bali

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ipuk Fiestiandani Bupati Banyuwangi (tengah) ketika mengunjungi Dusun Patoman Tengah di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsar yang kental nuansa hindu dan bali. Foto: Humas Banyuwangi

Dusun Patoman Tengah di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi memiliki wajah budaya yang unik dan berbeda dari wilayah lain di ujung timur Pulau Jawa.

Dusun yang dikenal masyarakat sebagai Dusun Balian ini tidak hanya identik dengan kehidupan masyarakat Hindu yang harmonis, tetapi juga berkembang sebagai pusat seni budaya dan ekonomi kreatif warga.

Julukan Dusun Balian melekat karena mayoritas penduduk di kawasan tersebut merupakan umat Hindu. Suasana perkampungan pun menghadirkan nuansa khas Bali, mulai dari arsitektur rumah warga hingga keberadaan pura yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Memasuki kawasan Dusun Patoman Tengah, pengunjung akan disuguhi pemandangan rumah-rumah bernuansa Bali lengkap dengan ornamen tradisional yang masih dipertahankan hingga kini. Kehidupan sosial masyarakatnya juga dikenal sangat menjunjung tinggi nilai toleransi antarumat beragama.

Warga dari berbagai keyakinan hidup berdampingan dan saling membantu dalam kegiatan sosial maupun keagamaan. Kondisi tersebut membuat Dusun Patoman Tengah dikenal sebagai salah satu Kampung Pancasila di Banyuwangi.

“Selama ini tidak pernah ada masalah. Kalau umat Hindu ada kegiatan, umat lain ikut membantu. Begitu juga sebaliknya, jadi saling mengisi,” ujar I Gede Yuda Permana Kepala Dusun Patoman Tengah

Di dusun tersebut berdiri Pura Desa yang tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pengembangan seni dan budaya masyarakat setempat. Anak-anak dan remaja rutin mengikuti kegiatan belajar agama, tari tradisional, gamelan hingga berbagai kesenian khas Banyuwangi dan Bali.

Aktivitas budaya itu menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi lokal sekaligus membuka ruang kreativitas generasi muda di wilayah pesisir Banyuwangi.

Selain kaya budaya, Dusun Balian juga mulai dikenal melalui geliat ekonomi kreatif warganya. Salah satu pelaku UMKM yang cukup menonjol adalah Kayan Suartana, seniman lokal yang mengembangkan usaha seni ukir berbahan kayu dan pasir pantai.

Kayan mulai merintis usahanya di Banyuwangi sejak tahun 2000. Selain aktif sebagai pengrajin, ia juga dikenal sebagai seniman tari dan musik tradisional yang konsisten melestarikan budaya daerah.

Dedikasinya di bidang seni budaya membuat Kayan menerima penghargaan tali kasih dari Abdullah Azwar Anas mantan Bupati Banyuwangi pada 2015.

Kini, karya-karya ukir miliknya berkembang menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Berbagai ornamen rumah, dekorasi artistik hingga patung berbahan kayu dan pasir telah dipasarkan ke sejumlah daerah seperti Bali, Nganjuk hingga Jawa Tengah.

Potensi ekonomi masyarakat Dusun Patoman Tengah juga berkembang di sektor pertanian. Warga mulai membudidayakan Cabe Jawa atau Cabe Puyang yang memiliki nilai jual cukup tinggi dan diminati pasar ekspor.

Salah satu petani setempat, Made Ardana, mengembangkan budidaya Cabe Jawa di lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi dengan jumlah hampir seribu tanaman.

“Perawatannya lebih simpel dibanding cabai biasa. Setelah dipanen tinggal direbus lalu dijemur sekitar tiga hari,” kata Made.

Ia menjelaskan, satu kilogram cabai Jawa basah dapat menghasilkan sekitar tiga ons setelah proses pengeringan dengan harga jual mencapai Rp85 ribu per kilogram.

Permintaan pasar terhadap komoditas tersebut disebut terus meningkat. Bahkan hasil panen warga Dusun Balian telah dipasarkan hingga ke Jepang dan China untuk memenuhi kebutuhan industri kosmetik dan herbal. (saf/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Minggu, 10 Mei 2026
31o
Kurs