Rabu, 16 September 2026

Menhut: Hotspot Karhutla Menurun, Kalteng dan Kalbar Masih Jadi Perhatian

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Raja Juli Antoni Menteri Kehutanan RI memberikan keterangan kepada wartawan seusai rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di gedung Nusantara Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (16/9/2026). Foto: Faiz Fadjarudin suarasurabaya.net

Raja Juli Antoni Menteri Kehutanan (Menhut) menyampaikan jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia menunjukkan tren penurunan.

Meski demikian, beberapa provinsi masih menjadi perhatian karena memiliki jumlah hotspot yang relatif tinggi.

Raja Juli menyampaikan hal tersebut usai Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Menurut Raja Juli, Pemerintah belum dapat memprediksi apakah jumlah titik api akan kembali meningkat hingga Oktober atau awal November.

Namun, berdasarkan pemantauan terbaru jumlah hotspot secara umum terus mengalami penurunan.

“Saya tidak bisa memprediksi ya. Namun, perlu saya laporkan per hari ini angkanya terus menurun,” kata Raja Juli.

Dia mengatakan, data hotspot tersebut bersifat terbuka dan dapat dipantau masyarakat melalui Sistem Monitoring Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan.

Berdasarkan data dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high level confidence jumlah hotspot mengalami perubahan dalam beberapa hari terakhir.

“Dari tanggal 12 totalnya 398. Tanggal 13 turun 576 titik api. Tanggal 14 naik lagi 1.309 titik api. Dan tanggal 15 itu turun lagi 968,” ujarnya.

Raja Juli juga memaparkan perkembangan hotspot di enam provinsi yang menjadi wilayah utama rawan karhutla.

Di Kalimantan Barat, jumlah hotspot tercatat turun signifikan dari 221 titik menjadi 51 titik berdasarkan pemantauan hingga pukul 23.59 WIB.

Sementara itu, Kalimantan Tengah masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot relatif tinggi. Namun trennya juga menunjukkan penurunan dari 697 titik menjadi 226 titik.

“Kalbar kemarin 221 titik api per malam kemarin 23.59 WIB itu sudah turun menjadi 51 titik api,” tutur Raja Juli.

“Kalteng masih tinggi tapi juga menunjukkan tren turun terus. Dari 697 titik api per malam tadi berkurang menjadi 226 titik api,” lanjutnya.

Di Kalimantan Selatan, jumlah hotspot turun tipis dari 112 titik menjadi 106 titik. Sedangkan Sumatra Selatan mengalami penurunan dari 259 titik menjadi 200 titik.

Untuk Jambi terjadi kenaikan jumlah hotspot dari 14 menjadi 18 titik. Sementara, Riau meningkat dari lima menjadi 15 titik setelah selama empat hari sebelumnya tidak terdeteksi hotspot.

“Jambi ada kenaikan dari 14 ke 18 tapi ini alhamdulillah Jambi dan Riau terkontrol dengan baik. Riau dari 5 naik 15 setelah selama 4 hari di Riau tidak ada titik api,” kata Raja Juli.

Raja Juli menyebut, konsentrasi penanganan karhutla saat ini tetap diarahkan ke sejumlah wilayah yang memiliki hotspot tinggi terutama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat serta Sumatra Selatan.

“Jadi konsentrasi utama kita tetap di Kalteng Kalbar dan Sumut atau Sumsel-nya di Sumatra Selatan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengapresiasi kerja sama berbagai pihak dalam menekan jumlah titik api. Upaya tersebut melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI-Polri BPBD serta masyarakat peduli api.

“Jadi sekali lagi trennya terus menurun karena kerja keras teman-teman dari Manggala Agni Kemenhut TNI-Polri BPBD masyarakat peduli api,” katanya.

Meski tren hotspot menurun, Raja Juli mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Menurut dia, praktik pembukaan lahan menggunakan api memang dinilai murah namun dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih besar ketika kondisi alam mendukung terjadinya kebakaran.

“Kalau seandainya masyarakat tetap melakukan cara-cara lama cara-cara ya bolehlah ‘primitif’ gitu ya masih membakar membuka kebun dengan cara membakar memang murah tapi dampaknya sangat luar biasa,” ujar Raja Juli.

Menhut menambahkan, kondisi alam yang saat ini kurang bersahabat menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai dalam menghadapi potensi karhutla.

“Terutama karena tadi kondisi alamnya sangat tidak bersahabat dengan kita,” pungkasnya.(faz/rid)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Rabu, 16 September 2026
29o
Kurs