Senin (16/2/2026), Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengatakan bahwa Israel menolak hampir setengah bantuan kemanusiaan terkoordinasi yang ada di dalam Jalur Gaza, terlepas dari perjanjian gencatan senjata.
Israel hanya memfasilitasi sedikit lebih dari setengah bantuan tersebut dalam kurun waktu enam hari.
Mengutip laman Anadolu, Stephane Dujarric Juru Bicara PBB menyebutkan pada konferensi pers bahwa operasi kemanusiaan di Gaza terus mengalami hambatan yang signifikan.
“Pengiriman dari Yordania dibatasi pada rute yang membutuhkan beberapa titik bongkar muat,” katanya.
Ia juga menambahkan, meski ada peningkatan dalam bantuan yang dapat masuk ke Jalur Gaza, tingkat pengembalian bantuan tetap tinggi pada bantuan dari sejumlah wilayah.
“Pengiriman dari Mesir, melalui Kerem Shalom/Karem Abu Salem, menghadapi tingkat pengembalian yang tinggi: meskipun ada peningkatan baru-baru ini, antara 4 dan 10 Februari, kurang dari 60% kiriman dari Mesir dapat dibongkar di titik penyeberangan tersebut,” terangnya.
Selain itu, gerakan kemanusiaan yang memerlukan koordinasi dengan otoritas Israel juga terus mengalami rintangan.
Secara spesifik Dujarric mengatakan, pada 6 hingga 11 Februari 2026, lima bantuan ditolak mentah-mentah, 11 disetujui tetapi mengalami penundaan dan hambatan lainnya, termasuk dua yang hanya sebagian berhasil diselesaikan.
“Dan baru hari ini, kami mendapat dua penolakan lagi,” tutur juru bicara PBB tersebut.
Tim PBB di lapangan terus mengupayakan untuk membuka ruang diskusi dengan Israel terkait kendala pengiriman bantuan dan solusi yang dapat ditawarkan.
Sebelumnya, kesepakatan gencatan senjata yang berlaku dengan dukungan Amerika Serikat telah menghentikan perang Israel selama dua tahun.
Sejak saat itu, Israel melakukan ratusan pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut dengan menggunakan senjata api, berdasarkan Kementerian Kesehatan Gaza. (vve/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
