Kurangnya pertanggungjawaban Israel terkait beberapa serangan yang terjadi di Jalur Gaza menjadi satu faktor utama yang menimbulkan serangan dan konflik, meskipun telah diberlakukan gencatan senjata.
Hal itu disampaikan Ravina Shamdasani Juru Bicara Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) pada Rabu (7/10/2026), dilansir Antara.
Kondisi dan pelanggaran HAM di Jalur Gaza di tengah permusuhan Israel sejak Oktober 2023, Ia menjelaskan bahwa situasi kemanusiaan di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki sudah mencapai tingkat yang sangat parah.
Akibatnya, lebih dari 70.000 orang tewas sejak Oktober 2023, termasuk 1.400 orang lebih sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober tahun lalu.
Shamdasani menggambarkan situasi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan, dengan tercatat adanya kematian akibat kelaparan, kejahatan perang dan potensi kejahatan terhadap kemanusiaan, serta semakin luasnya lahan yang disita di Tepi Barat.
Ia mengungkap bahwa semakin banyak warga Palestina yang tewas setiap harinya, bersamaan dengan perlakuan buruk terhadap tahanan Palestina di pusat-pusat penahanan.
Tercatat tidak ada pertanggungjawaban berkelanjutan Israel atas pelanggaran mereka di Palestina bahkan sebelum Oktober 2023, menjelaskan bahwa situasi kian memburuk.
Jubir PBB menekankan bahwa krisis itu diperparah oleh terhambatnya bantuan kemanusiaan dan meningkatnya kasus kematian akibat kelaparan, selain eskalasi penyitaan lahan dan pelanggaran di Tepi Barat.
Shamdasani menggarisbawahi pentingnya menghentikan pasokan senjata dan dukungan diplomatik serta finansial ke Israel yang berkontribusi memicu perang, menekankan bahwa seruan ini merupakan kewajiban hukum internasional bagi semua negara anggota.(ant/fia/kir/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

