Jumat, 25 September 2026

Pemerintah Gandeng Lembaga Inkubator untuk Membina Pelaku UMKM

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Maman Abdurrahman Menteri UMKM saat sambutan dalam Pro-Kesra Bursa Wirausaha Unggulan dan akad massal Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang digelar di Gedung Robotika ITS, Rabu (23/9/2026). Foto: Akira suarasurabaya.net

Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menargetkan pertumbuhan hingga 10 juta wirausaha melalui Program Kesejahteraan Rakyat (Pro-Kesra) yakni, Bursa Wirausaha Unggulan dan akad massal Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang digelar di Gedung Robotika ITS, Rabu (23/9/2026).

Dalam menjalankan program itu, Kementerian UMKM juga menggandeng sejumlah kampus sebagai lembaga inkubator yang nantinya dapat menjadi perpanjangan tangan Pemerintah.

Menurut Maman Abdurrahman Menteri UMKM, para pelaku usaha memerlukan pembinaan agar lebih terstruktur, memiliki sistem yang baik, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Maman Abdurrahman Menteri UMKM bersama Prof Bambang Pramujati Rektor ITS dalam sesi wawancara bersama awak media, Rabu (23/9/2026). Foto: Akira suarasurabaya.net

“Kita butuh perpanjangan tangan untuk membantu UMKM. Karena biasanya banyak produk UMKM sudah bagus, tapi karena tidak ada sustainability-nya, risetnya nggak jalan, dan lain sebagainya, akhirnya mandek,” kata Maman, dalam sesi wawancara dengan awak media, Rabu (23/9/2026).

Maman juga menyerap banyak aspirasi dari pelaku UMKM mengenai tantangan kompleks yang mereka alami dalam menjalankan usaha. Beberapa di antaranya seperti, perizinan, sertifikasi, permodalan, serta pasar.

“Banyak yang datang ke kami, dan masing-masing isunya berbeda. Tapi menurut saya yang paling penting dari itu semua adalah bagaimana cara mereka bisa menjangkau pasar,” tambahnya.

Menurut Maman, masih banyak pelaku UMKM yang bingung dan tidak mampu memasarkan produknya. Terutama UMKM yang bergerak di bidang garmen.

Berdasarkan data yang diterima Maman, saat ini pasar garmen domestik banyak dipenuhi oleh produk impor. Salah satunya produk dari Cina.

“Maka, dari itu kami sudah berkoordinasi dengan Dirjen Bea Cukai, Kemenko Perekonomian, dan beberapa instansi terkait untuk mulai membatasi masuknya barang-barang impor dari luar. Salah satunya garmen, baju, tekstil, segala macam. Ini yang paling sering kita gunakan agar industri domestik kita, agar UMKM lokal kita juga mampu berdaya saing dan produk-produk dari Cina itu tidak lagi membanjiri di Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu, Prof Bambang Pramujati Rektor ITS menyampaikan, kolaborasi ini menjadi bukti bahwa kampus memiliki peran penting. Dalam hal ini adalah membantu Kementerian UMKM untuk bisa membantu UMKM berkembang.

“Sebagai institusi, tentunya kita yakin bahwa ITS berperan sebagai enabler teknologi. Jadi kita bisa membantu dari segi teknologi, kita juga bisa membantu dari sisi inovasi,” tuturnya.

Prof. Bambang mengungkapkan, ITS pernah membuat gerakan “1.000 Desain Kemasan” untuk membantu UMKM memiliki desain kemasan yang lebih menarik.

Sejauh ini, lanjut Prof Bambang, setiap tahun ITS menerima hampir 50 inkubator berbeda kelas. Mulai kelas A, B, dan V serta lama coaching yakni, 6 bulan, 1 tahun, hingga 3 tahun.

“Nah, ini peran perguruan tinggi. Di samping kami juga memiliki inkubator, kami juga bantu coaching, mencari mitra, investor, dan sebagainya. Kira-kira itu peran institusi pendidikan. Kami terima kasih sekali kepercayaan oleh Kementerian,” tutupnya.(kir/rid)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Jumat, 25 September 2026
26o
Kurs