Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyebut lansia yang merawat empat cucu dan tidak masuk data sebagai keluarga miskin desil 1-5, sudah disurvei dan dalam proses pembaruan data ke pemerintah pusat.
Imam Mahmudi Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya menyebut, Sumiati (60 tahun) yang tinggal bersama anak keduanya, seorang laki-laki bernama Dimas Alif (31 tahun), cucu pertama bernama Areta (14 tahun) kelas 8 SMP negeri di Surabaya, Kinanti dan Kinanta cucu kembarnya berusia 6 tahun dan belum sekolah, serta Aruni cucu keempat (3,5 tahun), sudah didata ulang dalam pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang mengerahkan 5.000 Aparatur Sipil Nasional (ASN) pada Oktober 2025 lalu.
“Jadi sekarang (Sumiati masuk) desil 6 secara nasional. Itu bisa dilakukan update dengan survei kemudian di-update ke pusat,” katanya saat dihubungi pada Selasa (17/2/2026).
Pendataan itu masih diproses, belum bisa diketahui hasilnya Sumiati memenuhi kriteria masuk desil 1-5 sehingga layak menerima bantuan sosial atau tidak. Namun ia memastikan, jika tidak masuk kriteria, Pemkot tetap bisa memberi intervensi bantuan lain.
“Tapi kalau misalnya ternyata kami bisa melakukan update kondisinya dulunya mampu terus sekarang sudah tidak mampu, itu kan bisa dilakukan update. Datanya akan dimasukkan, kemudian diperingkatkan lagi secara nasional. Jadi tidak ada masalah kalau misalnya orang miskin tiba-tiba kami bisa melakukan updating itu. Tidak serta-merta updating-nya setiap bulan,” bebernya.
Ia menjelaskan bahwa penentuan kategori desil warga miskin itu kewenangan sepenuhnya oleh pemerintah pusat berdasarkan 39 indikator saat survei.
“Jadi termasuk di dalamnya indikator keluarga, indikator rumahnya, atap, lantai, dinding, kemudian kalau individu itu anaknya jumlahnya berapa, kemudian pekerjaannya apa, lulusan sekolahnya apa, jadi gitu,” tuturnya.
Sembari menunggu data pembaruan dari pemerintah pusat, Pemkot Surabaya memberi intervensi berupa bantuan usaha untuk Sumiati berupa uang tunai untuk modal dan rombong, untuk mendapatkan penghasilan sehingga memutus rantai kemiskinan.
“Sebenarnya yang dibutuhkan kan memang pekerjaan dan bukan BLT Iya. Pekerjaan pun bantuan usaha sudah kita upayakan, sudah kita usulkan ke Baznas juga. Paling seminggu hingga dua minggu sudah ada realisasi,” bebernya.
Tak hanya itu saja, Dinsos Surabaya sudah berupaya memberi pekerjaan padat karya ke Dimas Alif, anak kedua dari Sumiati yang tinggal di rumah itu. Namun ternyata Dimas sudah diterima kerja lebih dulu pada Kamis (19/2/2026) nanti.
“Kerja di pupuk, dengan penghasilan Rp130.000 per hari. Tapi tetap kita monitoring bersama-sama dengan kelurahan dan kecamatan (agar tidak kembali menganggur),” paparnya.

Terpisah, Ida Widayati Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya yang meninjau ke lokasi hari ini, menyatakan bahwa akan menerjunkan tim konselor untuk menemui Mariana anak pertama Sumiati, sekaligus ibu dari keempat cucu Sumiati, agar bertanggung jawab merawat anak-anaknya, dan tidak menyerahkan pengasuhan ke ibunya yang sudah lansia.
“Sebetulnya ini adalah pengasuhan keluarga yang salah ya. Jadi ibunya itu ada, ibunya ada dan sehat, tapi tidak bertanggung jawab menurut saya,” ungkapnya ditemui usai peninjauan di lokasi.
Sementara Dimas, yang masih berusia produktif, dinilai kurang memiliki semangat berjuang selain mengandalkan bantuan. Intervensi sementara tadi, berupa bantuan modal usaha untuk Sumiati berjualan nasi bungkus.
“Kami coba memberikan sedikit bantuan agar dia bisa bergerak. Tadi inginnya adalah jual nasi bungkus. Saya tadi pesan, kalau tidak laku di depan (rumah) ya harus keliling. Ternyata minta lagi (bantuan lain), karena tidak punya sepeda,” jelasnya.
Ida juga berkoordinasi dengan dinas lain termasuk Dinas Sosial yang akan memberi bantuan kasur,. Mengingat kasur di rumah itu kotor sehingga menyebabkan cucu-cucu Sumiati sakit kulit. Dia juga berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan untuk rencana sekolah kedua cucu Sumiati yang tahun depan usia kelas 1 SD serta pendidikan TK sekarang.
“Kita coba nanti kita lihat perkembangannya seperti seperti apa, mungkin kita juga akan mencoba untuk cari bantuan untuk apa, sepeda,” ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, temuan ini semula diungkap Imam Syafii Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya yang membidangi kesejahteraan rakyat. Usai tim suarasurabaya.net ikut peninjauan ke lokasi pada Sabtu (14/2/2026), hari ini melakukan konfirmasi ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Surabaya.
Hasilnya, langsung ditinjaklanjuti dengan Ida Widayati Kepala DP3APPKB Kota Surabaya meninjau ke lokasi bersama sejumlah staf lintas OPD. (lta/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
