Menurutnya, pengusahaan energi dasarnya butuh biaya besar, baik untuk minyak, gas, batu bara maupun listrik. Kalaupun ada yang murah, itu karena ada campur tangan pemerintah lewat subsidi.
“Yang harus kita tekankan kepada kita semua termasuk masyarakat adalah kita mencoba untuk menyediakan energi yang cukup dengan harga terjangkau dan andal. Itulah yang kemudian disebut sebagai ketahanan energi,” ujarnya.
Prinsip tersebut, kata Ali, juga berlaku dalam rencana pengembangan bensin dari batu bara atau coal to liquid (CTL).
Pernyataan itu disampaikan Kepala Pusat Penelitian Ketahanan Energi Universitas Indonesia (UI) itu, menanggapi pernyataan Prabowo Subianto Presiden, yang pada Sabtu (19/9/2026) lalu, mengungkap rencana pemerintah mengembangkan bensin berbahan dasar batu bara.
Rencana pemerintah itu sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak, dan menekan harganya agar lebih terjangkau.
NOW ON AIR SSFM 100

