“(Presiden AS Donald) Trump dengan mudah mengatakan bahwa mereka akan menjatuhkan sanksi yang paling menghancurkan atau paling mengerikan terhadap Iran,” ujarnya.
Tapi, meski menghadapi tekanan, Pezeshkian menegaskan Iran tetap bertahan dan berupaya memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ia juga menyebut pihak lawan sebelumnya memperkirakan Iran akan mengalami kemunduran besar jika terus ditekan.
“Musuh memperkirakan bahwa jika Iran jatuh, negara ini akan menjadi seperti Venezuela. Itu tidak hanya tidak terjadi, tetapi Iran justru menjadi kekuatan yang membuat dunia kagum dengan perlawanan, solidaritas, dan kekompakannya,” kata Pezeshkian.
Pemerintah Iran, lanjut dia, juga berusaha mencegah perpecahan dan konflik internal di tengah tekanan yang dihadapi negara itu. “Kami bekerja dengan seluruh kemampuan untuk menghindari perpecahan, konflik, dan ego,” ujarnya.
Iran dan AS sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan itu mengakhiri permusuhan yang dimulai pada Februari sekaligus membuka jalan bagi perundingan menuju kesepakatan akhir.
Namun, pembicaraan kedua pihak kemudian mengalami kebuntuan akibat perbedaan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman dan pengaturan pelayaran melalui Selat Hormuz. Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas dunia. (bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

