Proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) dipastikan terus berjalan setelah memasuki tahap pengerjaan Detail Engineering Design (DED) oleh Chodai, perusahaan konsultan asal Jepang.
Kepastian itu disampaikan dalam rapat koordinasi antara Chodai, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) melalui Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya, serta PT KAI Daop 8 Surabaya.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah aspek teknis dibahas, mulai dari perencanaan infrastruktur, pengembangan kawasan, peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang, hingga rekomendasi teknis pembangunan jalur kereta regional Surabaya.
Denny Michels Adlan Kepala BTP Kelas I Surabaya DJKA mengatakan, tahap penyusunan DED menjadi bagian penting untuk memetakan berbagai tantangan sebelum pembangunan SRRL dimulai.
“Khususnya pada area Depo yang rencananya akan dibangun di Sidotopo dan rekayasa lalu lintas berikut peningkatan keselamatannya,” ujar Denny, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, proyek SRRL membutuhkan kolaborasi lintas sektor karena pembangunan infrastruktur kereta api berpotensi memberikan dampak terhadap berbagai aspek, termasuk sosial masyarakat dan tata ruang kota.
Denny menjelaskan, pemerintah daerah akan dilibatkan apabila nantinya diperlukan penanganan terhadap dampak sosial akibat pembangunan.
“Manakala nantinya dibutuhkan keterlibatan pemerintah dalam penanganan dampak sosial, nanti kita diskusikan lebih lanjut dengan mengundang baik pihak Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun Pemerintah Kota Surabaya,” katanya.
Ia menambahkan, pada SRRL Fase I-B terdapat sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak pembangunan sehingga diperlukan perhitungan matang dan koordinasi antarinstansi.
Selain persoalan sosial, rapat koordinasi juga membahas dampak teknis pembangunan terhadap operasional perjalanan kereta api yang sudah berjalan.
Chodai menyampaikan sejumlah infrastruktur eksisting seperti jembatan kereta api, jalur rel, dan stasiun akan mengalami penyesuaian sebagai bagian dari pembangunan SRRL.
Denny menegaskan, penyesuaian tersebut harus dirancang agar tidak mengganggu layanan perjalanan kereta api.
“Ini jadi salah satu langkah yang akan cukup komprehensif. Contoh di JPL Jalan Jagir Wonokromo, kita harus hitung potensi kemacetan akibat headway kereta nantinya dan ini dapat kita teruskan ke Pemkot Surabaya untuk dijadikan dasar pembangunan ke depan,” jelasnya.
Selain memperhatikan infrastruktur yang sudah ada, pembangunan SRRL juga akan diintegrasikan dengan sejumlah proyek pendukung transportasi lainnya.
“Terlebih kita harus integrasikan dengan rencana proyek lain yang mendukung SRRL, seperti Flyover Taman Pelangi dan Flyover Gedangan,” tutup Denny.
Sementara itu, Daniel Johannes Hutabarat EVP PT KAI Daop 8 Surabaya menyambut positif rencana pembangunan SRRL di Surabaya.
Menurutnya, keberadaan jalur kereta regional tersebut akan menjadi penguatan sistem transportasi perkotaan dan pihaknya siap mendukung kebutuhan proyek tersebut. “Kami siap membantu apa yang diperlukan,” ujar Daniel. (saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

