Minggu, 26 Juli 2026

Rehabilitasi Mangrove Berpeluang Jadi Mesin Baru Ekonomi Hijau Indonesia

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Hasil penanaman mangrove pada Sabtu (27/6/2026) di area Romokalisari, Surabaya. Foto: PT TPS

Jumhur Hidayat Menteri Lingkungan Hidup (LH) sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menegaskan, rehabilitasi mangrove tidak hanya berperan dalam memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga berpotensi menjadi motor pertumbuhan ekonomi hijau melalui mekanisme perdagangan karbon internasional.

Menurut Jumhur, pemerintah tengah memperkuat gerakan nasional rehabilitasi mangrove dengan melibatkan kementerian, pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat.

“Penanaman mangrove dapat dikolaborasikan dengan kegiatan bisnis melalui mekanisme pasar karbon internasional. Aktivitas yang menghasilkan karbon dapat dikompensasi melalui pasar karbon, sehingga menghasilkan pendanaan yang cukup besar,” kata Jumhur saat menghadiri puncak peringatan Hari Mangrove Sedunia di Denpasar Selatan, Bali, Minggu (26/7/2026).

Ia menjelaskan, program rehabilitasi mangrove saat ini telah dilaksanakan secara serentak di 162 lokasi yang tersebar di 37 provinsi.

Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 2.000 peserta secara langsung, serta puluhan ribu peserta lain yang mengikuti dari berbagai daerah di Indonesia.

Dilansir dari Antara, Jumhur mengungkapkan bahwa mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon empat hingga lima kali lebih besar dibandingkan vegetasi daratan pada umumnya.

Karena itu, satu hektare hutan mangrove disebut memiliki kemampuan menyerap emisi karbon yang setara dengan sekitar empat hektare tanaman daratan.

Menurutnya, kemampuan tersebut menjadikan rehabilitasi mangrove sebagai salah satu strategi penting dalam menekan dampak perubahan iklim sekaligus mengimbangi peningkatan emisi karbon yang dihasilkan berbagai aktivitas ekonomi.

Ke depan, pemerintah tidak hanya mengandalkan pendanaan dari APBN maupun APBD untuk memperluas rehabilitasi mangrove. Skema pembiayaan juga akan diperkuat melalui perdagangan karbon internasional dengan melibatkan sektor swasta.

Jumhur menyebut mekanisme pasar karbon dapat membuka peluang investasi berskala besar untuk mendukung rehabilitasi ratusan ribu hektare kawasan mangrove di Indonesia.

Menurutnya, sejumlah investor telah menyatakan minat untuk berinvestasi dalam program rehabilitasi mangrove yang dipadukan dengan skema perdagangan karbon.

Selain memberikan keuntungan bagi investor, rehabilitasi mangrove juga diproyeksikan mampu menciptakan lapangan kerja hijau atau green jobs bagi masyarakat.

Masyarakat yang terlibat dalam pemeliharaan kawasan mangrove akan memperoleh upah selama proses perawatan, sekaligus berpeluang mendapatkan manfaat ekonomi melalui skema pembagian hasil (benefit sharing) dari perdagangan karbon.

Pemerintah juga tengah menghitung besaran kontribusi sektor pemulihan lingkungan berbasis pasar karbon terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dalam satu hingga dua tahun ke depan, termasuk potensi penyerapan jutaan tenaga kerja.

“Berdasarkan berbagai perhitungan yang kami lakukan, membangun Indonesia melalui pemulihan lingkungan dengan memanfaatkan mekanisme pasar karbon merupakan kegiatan usaha yang menguntungkan,” ujar Jumhur.

Ia menambahkan Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi hijau karena didukung wilayah laut yang luas, ekosistem mangrove yang melimpah, serta kondisi geografis yang sangat mendukung pengembangan perdagangan karbon. (ant/saf/ham)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Besi Terguling di Sukomanunggal Surabaya

Muatan Menggunung

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Surabaya
Minggu, 26 Juli 2026
28o
Kurs