Jumat, 11 September 2026

Respons Keracunan Berulang, Ikatan Dokter Anak Usul MBG Dikelola Kantin Sekolah

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ilustrasi: Sejumlah pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dipan Tanjunganom, Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (8/1/2026). Foto: Antara

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengusulkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimasak dan disajikan di kantin sekolah untuk memastikan keamanan pangan.

Piprim Basarah Yanuarso Ketua Umum IDAI mengatakan, usulan tersebut sekaligus sebagai alternatif mengganti skema guru mencicipi MBG untuk memastikan keamanan pangan.

“Standar keamanan pangan itu sangat ketat dan tidak bisa ditawar-tawar lagi,” katanya dilansir dari Antara, pada Jumat (11/9/2026).

Hal itu ia tekankan merespons kejadian keracunan yang berulang kali terjadi pada program MBG.

Ia menjelaskan, dengan memasak MBG di kantin sekolah, makanan yang disajikan lebih hangat atau segar saat dihidangkan.

Selain itu, konsep penyajiannya bisa dibentuk sesuai selera anak agar mau dimakan, salah satu contohnya model prasmanan.

Menurutnya, niat mulia memberi gizi pada anak-anak perlu dibarengi dengan upaya untuk memastikan makanan yang dikonsumsi aman dan memenuhi standar. Oleh karena itu, ia merekomendasikan untuk meninjau ulang konsep MBG, mengevaluasi secara objektif dan menyeluruh.

Ia menekankan bahwa peninjauan merupakan hal penting, karena maslaah tersebut membuat orang tua sangat sedih.

Sementara itu, Damayanti Rusli dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI menjelaskan, keracunan pangan disebabkan oleh dua hal, pertama food-based hazard yang datang dari paparan kimia, fisik pada makanan. Contohnya bakteri, jamur, cacing, pestisida.

“Yang kedua adalah si orang sendiri, orang tersebut yang menyebabkan hazardnya tadi. Jadi, bisa dari makanannya, bisa dari perilakunya untuk mengolah makanan,” katanya.

Contoh yang kedua, lanjut dia, mencampurkan makanan mentah dengan makanan yang sudah masak, temperatur penyimpanan makanan yang salah, hingga bahan yang kurang bersih pencuciannya.

Menurut data 2015 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari 10 orang mengalami keracunan makanan. Ia mengingatkan bahwa keracunan dapat menyebabkan kematian.

“Nah, siapa yang sangat sensitif terhadap keracunan tersebut? Satu adalah lansia, kemudian anak-anak di bawah 5 tahun. Jadi, nanti kalau MBG-nya sudah masuk ke 3B, ini lebih lagi, risikonya lebih besar. Kemudian orang-orang yang daya tahan tubuhnya rendah,” pungkasnya.(ant/ris/faz)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Jumat, 11 September 2026
28o
Kurs