Jumat, 17 April 2026

Run for Rivers: Tiga Bersaudara Asal Prancis Lari 1.260 Km Demi Sungai Bersih

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Sam, Gary, dan Kelly Bencheghib co-founder Sungai Watch. Foto: Sungai Watch

Tiga bersaudara, Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib, melakukan aksi lari jarak jauh dari Bali menuju Jakarta sejauh 1.260 kilometer untuk menggalang dana sekaligus mengatasi persoalan polusi plastik di sungai Indonesia.

Aksi bertajuk Run for Rivers ini diinisiasi oleh Sungai Watch organisasi nirlaba yang mereka dirikan. Kegiatan ini juga menjadi ultramaraton pertama di Indonesia dengan misi mengumpulkan dana sebesar 1 juta dolar AS serta mengangkat 1 juta kilogram sampah plastik dari sungai.

Perjalanan dimulai dari Bali dan dalam enam hari pertama mereka telah menempuh jarak 145 kilometer. Saat ini, tim telah memasuki wilayah Jawa Timur, melintasi kawasan industri hingga aliran sungai yang tercemar.

Setiap hari, ketiga bersaudara asal Prancis itu berlari sekitar 25 kilometer sambil menggelar aksi bersih-bersih yang melibatkan komunitas, hingga bertemu dengan sejumlah kepala daerah. Selama ekspedisi, mereka menargetkan melintasi 30 kota dan wilayah di Pulau Jawa dalam waktu 57 hari.

“Kami tidak hanya berlari 25 km setiap hari; kami memiliki tim yang memantau titik-titik pembersihan di depan kami, melompat ke sungai, dan bekerja sama dengan masyarakat. Kami telah berhasil memulihkan tempat pembuangan sampah ilegal di Bali Barat, dan kami membawa dampak tersebut ke seluruh Jawa,” ujar Gary Bencheghib, saat onair di Radio Suara Surabaya.

Tiga bersaudara, Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib, co-founder Sungai Watch Indonesia, saat onair di Radio Suara Surabaya, Kamis (16/4/2026). Foto: Vina suarasurabaya.net

Tiga saudara asal Prancis itu memulai aksi mereka pada 28 Maret 2026 dan tiba di Kota Surabaya pada hari ke-19. Sepanjang perjalanan, mereka telah melintasi lebih dari 200 sungai.

“Sekarang baru di Surabaya, ini hari ke-19 dan sudah lari 436 kilometer,” ucap Kelly.

Ia menjelaskan, aksi ini juga menjadi upaya pemetaan kondisi sungai secara langsung sebagai dasar ekspansi program Sungai Watch ke wilayah lain.

“Lari ini membantu kami memetakan realitas limbah dan sungai di seluruh Jawa, sehingga kami tahu persis ke mana Sungai Watch harus melangkah selanjutnya,” katanya.

Sementara itu, Sam Bencheghib menegaskan bahwa aksi ini tidak hanya bertujuan menggalang dana, tetapi juga mendorong kesadaran publik menjadi aksi nyata dalam menangani krisis sampah plastik.

“Polusi plastik akhirnya mulai mendapat perhatian di Indonesia. Kami berlari untuk mengubah momentum tersebut menjadi aksi nyata, solusi, dan pendanaan guna memperluas jangkauan Sungai Watch ke seluruh Jawa,” ujarnya.

Rencananya, aksi ini akan berakhir di Jakarta dengan target bertemu Prabowo Subianto Presiden untuk menyampaikan kondisi riil di lapangan.

Dalam misi membersihkan sungai di Indonesia, tentu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk mendukung program ini, masyarakat dapat berdonasi sebesar 1 dolar AS atau sekitar Rp16.000 melalui laman runforrivers.sungaiwatch.com.

“Setiap 16.000 itu bisa membiayai pembersihan 1 kilo di sungai,” ucapnya kepada 100 FM.

Selain itu, di sepanjang rute di kota-kota tertentu, program ini juga membuka kesempatan bagi publik untuk berlari bersama tim atau ikut serta dalam aksi bersih sungai. Pelacakan perjalanan secara langsung (live tracking) dapat dipantau melalui laman yang sama.

Sebagai informasi, Sungai Watch berdiri sejak 2020 dan telah memasang sekitar 400 penghalang sampah di sungai. Hingga kini, mereka berhasil mengangkat sekitar 4,5 juta kilogram sampah serta menjangkau miliaran audiens melalui kampanye global.

Yayasan ini didirikan oleh tiga bersaudara asal Prancis yang telah tinggal di Bali selama 20 tahun. Seiring waktu, mereka menyadari persoalan sampah yang semakin mengkhawatirkan dan tidak bisa diabaikan.

“Karena masalah sampah ini bukan masalah untuk satu daerah, tapi ini masalah untuk kita semua,” ucap Gary.

Mereka kemudian memulai pemasangan penghalang sampah di sungai-sungai di Bali, sekaligus melakukan pembersihan secara rutin. Dalam sehari, Sungai Watch mampu mengangkat sekitar 6 hingga 7 ton sampah.

“Kami setiap hari bersih lebih dari 300 sungai, itu sekitar 6 sampai 7 ton setiap hari. Itu mulainya di Bali saja. Mulainya di Bali sekarang ada operasi di Bali, Banyuwangi sama Sidoarjo,” ungkapnya.

Hingga 27 Maret 2026, Sungai Watch berhasil menggalang dana sebesar 56 ribu dolar AS atau setara Rp959.954.800 untuk mendukung program pembersihan sampah di sungai.

Gary berharap upaya penggalangan dana ini terus meningkat agar dampak yang dihasilkan juga semakin besar.

“Harapan kami bagaimana bisa di-fundraise sebanyak mungkin untuk remove as many kilos (sampah) dari sungai,” pungkasnya.(ily/kir/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Jumat, 17 April 2026
33o
Kurs