Nilai tukar rupiah pada Kamis (6/8/2026) pagi bergerak menguat 22 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.911 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.933 per dolar AS.
Lukman Leong Analis Mata Uang di Doo Financial Futures menyatakan rupiah menguat seiring optimisme Selat Hormuz akan dibuka kembali.
“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya optimisme bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali. Sejak Senin (3/8), harga minyak WTI (West Texas Intermediate) yang minggu lalu ditutup di level 86 dolar AS per barel, sekarang sudah berada di 74,60 dolar AS per barel,” ucapnya, Kamis (6/8/2026) dilansir Antara.
Mengutip Anadolu, Scott Bessent Menteri Keuangan Amerika Serikat mengatakan AS dan Iran berpotensi mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan kebebasan pelayaran bagi kapal-kapal komersial pada Selasa atau Rabu (5/8/2026) waktu setempat.
Terkait pemberian izin bagi Iran untuk menarik tarif tol di jalur perairan tersebut, Bessent mengatakan perjanjian itu akan menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Sebelumnya, AS telah meminta Iran menjamin kebebasan navigasi di jalur perairan strategis itu, sementara Iran menegaskan bahwa pelayaran di perairan lepas pantainya harus berada di bawah pengawasan Iran.
Melihat sentimen domestik, data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2026 Indonesia yang lebih kuat dari perkiraan juga disebut akan mendukung rupiah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen (year on year/yoy) pada triwulan II 2026, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) mencapai Rp3.576,2 triliun, meningkat dari Rp3.396,6 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pelaku pasar sebelumnya berekspektasi pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 5,1 persen.
“PDB kuartal II yang lebih kuat tidak mengartikan akan kembali kuat ke depannya. Namun, apabila harga minyak turun terus, ini akan meredakan tekanan pada fiskal dan rupiah, dan bisa mendukung pertumbuhan ke depannya,” kata Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.850-Rp18 ribu per dolar AS. (ant/lta/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

