Selasa, 27 Oktober 2026

Rupiah Tertekan hingga Rp18.156, Ini Faktor yang Memengaruhi Pergerakannya

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto: Antara

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp18.156 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (27/10/2026).

Berdasarkan data perdagangan, rupiah turun 21 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.135 per dolar AS.

Rully Nova analis Bank Woori Saudara mengatakan, peningkatan konversi simpanan ke valuta asing (valas) di sektor perbankan turut menekan pergerakan mata uang domestik.

“Rupiah hari ini melemah, dipengaruhi oleh domestik tekanan di pasar saham dan obligasi, dan peningkatan konversi simpanan ke valas di perbankan,” ujarnya.

Menurut Rully, kenaikan simpanan valas yang mencapai 20 persen mengindikasikan meningkatnya preferensi masyarakat untuk memegang dolar AS. Langkah ini dapat menjadi bentuk antisipasi terhadap potensi pelemahan rupiah lebih lanjut.

Namun, meningkatnya permintaan dolar AS juga berisiko memperketat likuiditas valuta asing di pasar domestik apabila kebutuhan dolar tidak diimbangi ketersediaan pasokan yang memadai.

Dilansir dari Antara, tekanan terhadap rupiah juga berlangsung di tengah pelemahan pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hingga menembus level 5.300, mencerminkan tekanan pada pasar keuangan domestik.

Di pasar obligasi, pergerakan imbal hasil menunjukkan fenomena inversi kurva imbal hasil. Kondisi ini terjadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor tertentu yang lebih panjang justru lebih rendah dibandingkan tenor yang lebih pendek. Dalam kondisi yang dilaporkan, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun tercatat di bawah tenor 8 hingga 9 tahun.

Meski demikian, sejumlah faktor eksternal berpotensi menahan pelemahan rupiah. Faktor tersebut meliputi penurunan harga minyak mentah dunia, turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve atau The Fed.

Sebelumnya, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun 1,51 dolar AS atau 1,46 persen menjadi 101,76 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember juga melemah 91 sen atau 0,78 persen menjadi 115,81 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Penurunan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan terhadap biaya impor energi Indonesia. Meski begitu, pergerakan harga komoditas global tetap menjadi salah satu faktor yang memengaruhi prospek inflasi dan stabilitas nilai tukar.

Dari Amerika Serikat, pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan kebijakan moneter pekan ini. Namun, inflasi yang masih tinggi membuat peluang kenaikan suku bunga tetap menjadi perhatian pelaku pasar.

Ketidakjelasan arah kebijakan juga terlihat dalam pernyataan Kevin Warsh Ketua The Fed pada pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand.

Warsh tidak memberikan panduan kebijakan atau forward guidance yang tegas mengenai langkah suku bunga berikutnya.

Komentar hati-hati dari Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson dan Michelle Bowman turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan menunggu perkembangan data ekonomi sebelum menentukan kebijakan selanjutnya.

Menurut data CME Group yang dikutip dalam laporan tersebut, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pekan ini mencapai 90 persen, sedangkan 10 persen pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga.

Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat pelemahan rupiah. Kurs referensi tersebut berada di level Rp18.139 per dolar AS, naik dari Rp18.116 per dolar AS pada hari sebelumnya. (ant/saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Selasa, 27 Oktober 2026
28o
Kurs