Sadio Camara Menteri Pertahanan (Menhan) Mali, dilaporkan terbunuh dalam serangkaian serangan terkoordinasi yang menyasar sejumlah fasilitas militer di berbagai wilayah negara tersebut.
Issa Ousmane Coulibaly Juru Bicara Pemerintah Mali dalam pernyataannya, Minggu (26/4/2026) waktu setempat, menyebut Camara meninggal setelah rumahnya menjadi target serangan kelompok bersenjata.
“Camara meninggal ketika penyerang menargetkan rumahnya,” ujar Coulibaly dalam pernyataan resmi yang dikutip kantor berita Al Jazeera, Senin (27/4/2026).
Serangan terjadi di Kota Kati, kawasan garnisun militer yang berjarak sekitar 15 kilometer dari ibu kota Bamako. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu titik paling aman di negara itu, sekaligus lokasi kediaman Assimi Goita Presiden Sementara Mali.
Menurut laporan, serangan dilakukan secara bersamaan oleh kelompok afiliasi Al-Qaeda, Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), bersama kelompok pemberontak Tuareg dari Front Pembebasan Azawad (FLA). Aksi tersebut termasuk serangan bom mobil bunuh diri yang menghantam kediaman Camara.
Selain Camara, istri kedua dan dua cucunya juga dilaporkan meninggal dalam insiden tersebut.
Camara merupakan sosok kunci dalam pemerintahan militer Mali yang berkuasa setelah dua kudeta berturut-turut pada 2020 dan 2021. Ia juga dikenal sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam kepemimpinan militer. Laporan Al Jazeera juga menyebut Camara sebagai calon pemimpin Mali di masa depan.
Adapun serangan tidak hanya terjadi di Kati. Kelompok bersenjata juga menyerang sejumlah lokasi lain, termasuk ibu kota Bamako, serta wilayah Gao, Kidal di utara, dan kota Sevare di bagian tengah.
Hingga lebih dari 24 jam setelah serangan dimulai, situasi di sejumlah wilayah masih belum sepenuhnya kondusif. Di Kidal, suara tembakan dan ledakan juga masih terdengar.
Meski demikian, Assimi Goita Presiden Sementara Mali dilaporkan dalam kondisi aman dan telah dipindahkan ke lokasi yang lebih terlindungi saat serangan terjadi.
Sementara itu, Bulama Bukarti Analis Keamanan Nigeria menilai situasi berpotensi memanas dalam beberapa hari ke depan. “Kemungkinan akan ada lebih banyak pertempuran untuk memperebutkan wilayah dan lokasi strategis,” ujarnya.
Ia juga menyoroti adanya perubahan dinamika kelompok bersenjata. “Ini adalah dua kelompok yang sebelumnya memiliki tujuan berbeda. Namun mereka sepakat bekerja sama, dan yang kita lihat sekarang adalah implementasi dari kesepakatan tersebut,” kata Bukarti.
Sementara internasional mengecam serangan ini, termasuk dari Uni Afrika, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Amerika Serikat, dan Uni Eropa, yang mendesak dihentikannya kekerasan serta pemulihan stabilitas di Mali. (bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
