Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) menyebut risiko resesi Indonesia di bawah Amerika Serikat, Kanada dan Jepang. Menurutnya, ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat di tengah konflik Timur Tengah yang menganggu jalur perdagangan, khususnya sektor energi.
“Probability resesi Indonesia di bawah lima persen, di bawah lima persen. Ini lebih rendah dari negara lain, seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang,” ujar Airlangga dalam acara Kick Off Pinisi di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Dia meyebut, Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh ke depannya. Yang mana, target pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2026 mencapai 5,5 persen.
“Walaupun perang belum selesai, Indonesia masih memiliki resiliensi yang kuat dan ruang untuk tumbuh tetap tinggi. Dan dunia masih melihat Indonesia sebagai ekonomi yang cukup kuat. IMF mengatakan Indonesia salah satu brightspot di Asia,” ujarnya.
Menko Perekonomian juga menyinggung laporan terbaru Eye on the Market yang diterbitkan J.P. Morgan Asset Management bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis pada 21 Maret 2026.
Laporan itu menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dunia sebagai negara paling tahan terhadap guncangan energi global. Menurut Airlangga, laporan ini menunjukkan ketahanan energi yang dijalankan Pemerintah, konsisten di tengah dinamika geopolitik dan fluktuasi harga komoditas energi global.
Pemerintah pun optimistis pertumbuhan ekonomi masih akan meningkat. Mengingat, tingkat konsumsi dalam negeri masih tinggi.
“Konsumsi dalam negeri masih kuat 54 persen terhadap PDB kemudian rasio perdagangan dengan eksternal terjaga di 42 persen daripada PDB. Utang luar negeri masih 29,9 persen dari PDB dan SBN didominasi investor domestik hingga 87,4 persen. Jadi asing SBN hanya sebesar 12,6 persen,” pungkasnya.(lea/bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
