“Memang bisa untuk memonitor adanya anomali. Sehingga jika ada anomali, maka kita bisa simpulkan keadaan berbahaya. Yang kedua, karena historical datanya kita simpan, jadi bisa untuk kepentingan KNKT, investigasi,” jelasnya.
Namun, ia membenarkan kalau sistem AIS ITS saat ini tidak terintegrasi langsung dengan sistem kedaruratan untuk otomatis mengirimkan peringatan kepada tim SAR. Data pergerakan yang tersimpan lebih berfungsi sebagai bahan pemantauan dan dapat digunakan untuk mendukung proses investigasi kecelakaan kapal.
“Bisa untuk kepentingan investigasi karena kita simpan semua data pergerakannya di server kami,” jelas Dhimas.
Namun, ia menejlaskan kalau memungkinkan, integrasi itu bisa dilakukan. “Jadi nantinya bisa kita gunakan sebagai early warning begitu. Jadi misalkan diintegrasikan dengan data angin, arus, kemudian ada kondisi berbahaya pergerakannya misalkan mengalami bahaya kita lihat dari pola tracking pergerakannya,” pungkasnya. (bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

