Wagub Jatim itu menjelaskan, SiLPA merupakan instrumen kombinasi antara pendapatan daerah yang melampaui target dengan efisiensi dalam realissi belanja pemerintah daerah.
Emil menyebit efisiensi tersebut berasal dari kebijakan penghematan dalam pengadaan barang dan jasa, serta pemangkasan sejumlah kegiatan yang akhirnya tidak dilaksanakan karena kurang efektif.
“SiLPA adalah kombinasi dari pelampauan pendapatan daerah dan juga efisiensi belanja daerah,” tuturnya.
Di sisi lain Emil menjelaskan bahwa dalam proses penyusunan APBD selalu mempertimbangkan faktor ketidakpastian dan berbagai kemungkinan yang akan terjadi selama satu tahun masa anggaran.
Untuk itu, lanjut Emil, pemerintah daerah perlu menyediakan ruang fiskal atau buffer supaya penyelenggaraan pemerintahan tetap berjalan apabila terjadi perubahan situasi.

NOW ON AIR SSFM 100

