Rabu, 8 Juli 2026

Unusa Dukung Pemerataan Dokter Spesialis Lewat Pembukaan Program PPDS

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Tri Yogi Yuwono Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) bersama Budi Santoso Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unusa dan mahasiswa angkatan pertama Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Paru dan Obgyn. Foto: Unusa

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mulai mengambil peran dalam menjawab kebutuhan dokter spesialis di Indonesia dengan menerima sepuluh mahasiswa angkatan pertama Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Program Studi Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) serta Program Studi Obstetri dan Ginekologi (Obgyn).

Tri Yogi Yuwono Rektor Unusa mengatakan, penyelenggaraan PPDS merupakan amanah dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kepada perguruan tinggi yang memiliki kapasitas untuk mendukung pemerataan dokter spesialis.

“Kepercayaan untuk menyelenggarakan PPDS merupakan amanah yang harus kami jalankan dengan penuh tanggung jawab. Fakultas Kedokteran Unusa telah meraih akreditasi Unggul, sehingga kami berkewajiban menghadirkan pendidikan dokter spesialis yang berkualitas sekaligus berkontribusi menjawab kebutuhan nasional akan dokter spesialis,” katanya pada Selasa (7/7/2026).

Ia mengatakan, pembukaan PPDS Paru, PPDS Obstetri dan Ginekologi menjadi bagian dari upaya mendukung program pemerintah dalam mempercepat pemenuhan dokter spesialis di daerah yang masih kekurangan tenaga medis.

Seluruh mahasiswa angkatan pertama menurutnya, juga sudah menandatangani surat pernyataan untuk kembali bertugas di instansi atau daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan, sehingga manfaat program tersebut akan bisa dirasakan lebih luas.

Budi Santoso Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unusa mengatakan bahwa mahasiswa angkatan pertama berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur, termasuk wilayah kepulauan seperti Masalembu yang selama ini masih menghadapi tantangan dalam pemenuhan dokter spesialis.

“Latar belakang mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah menunjukkan bahwa kebutuhan dokter spesialis memang sangat besar. Kami berharap setelah menyelesaikan pendidikan, mereka kembali membawa kompetensi terbaik untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di daerah masing-masing,” ujarnya.

Budi menjelaskan, program PPDS Paru dan PPDS Obgyn di Unusa didukung rumah sakit pendidikan, dosen, serta dokter pendidik klinis berpengalaman.

Kurikulumnya juga dirancang untuk menghasilkan dokter spesialis yang unggul dalam kompetensi klinis, penelitian, dan pendidikan, sekaligus memiliki kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan bahwa kampus berkomitmen dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari perploncoan maupun segala bentuk kekerasan.

“Saya tidak akan mentoleransi segala tindakan kekerasan yang terjadi dalam lingkungan kampus. Serta sekarang kita juga sudah punya satgas PPKPT (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi) yang siaga,” ujarnya.

Seperti diketahui, pembukaan PPDS tersebut sejalan dengan agenda nasional percepatan pemenuhan dokter spesialis.

Berdasarkan data Kemenkes, Indonesia saat ini baru mampu menghasilkan sekitar 2.700 dokter spesialis setiap tahun, sementara kebutuhan ideal mencapai sekitar 32.000 dokter spesialis per tahun.

Melalui penyelenggaraan PPDS itu, kampus didorong bisa memperluas akses pendidikan dokter spesialis sekaligus mendukung pemerataan layanan kesehatan di berbagai daerah. (ris/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Rabu, 8 Juli 2026
25o
Kurs