“Harusnya naik kelas atau tidak itu perkara tercapainya tujuan pembelajaran, bukan perkara anak menguasai materi ajar atau tidak. Tapi pertanyaannya sekarang, apakah sekolah sudah merinci kurikulumnya, sehingga sesuai dengan latar belakang murid?” ungkapnya.
Menurut Itje, sekolah adalah tempat di mana anak menjalani proses pengembangan. Sehingga ketika ada anak yang gagal dalam proses itu, sekolah harus melakukan evaluasi.
“Jadi, kita itu melihatnya jangan di anak-anak. Anak-anak itu bukan pesakitan. Anak-anak di sekolah itu untuk dikembangkan. Bukan dinilai berdasar apakah dia menguasai pembelajaran atau tidak,” tegasnya.
Berbeda dari pendapat Itje, beberapa orang tua dan perwakilan sekolah yang ikut terlibat dalam diskusi ini, mereka menyatakan kalau kebijakan tidak naik kelas perlu dilakukan.
Karena kebijakan itu dinilai mampu menghilangkan fenomena “Rumus RMS” atau “rajin malas sama saja”. Artinya, baik siswa yang rajin belajar atau tidak, mereka tetap akan naik kelas.
NOW ON AIR SSFM 100

