Senin, 27 September 2021

Juara Grand Slam Termuda di US Open, Raducanu Kembali Masukkan Inggris dalam Sejarah Tenis

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Petenis Emma Raducanu merayakan kemenangan dengan trofinya usai menjuarai turnamen AS Terbuka 2021 di USTA Billie Jean King National Tennis Center, Flushing, New York, Amerika Serikat, Sabtu (11/9/2021). Foto: USA Today

Emma Raducanu Remaja Inggris mencatatkan sejarah menjadi petenis kualifikasi pertama yang merebut gelar Grand Slam dengan unggul dua set langsung atas petenis Kanada Leylah Fernandez pada pertandingan final tunggal putri US Open di New York, Sabtu (12/9/2021) waktu setempat (Minggu WIB).

Raducanu (18 tahun) adalah perempuan Inggris pertama dalam 44 tahun yang memenangi mahkota Grand Slam setelah mengalahkan pemain kidal peringkat ke-73 Fernandez yang berusia 19 tahun dengan skor 6-4, 6-3 untuk membawa pulang hadiah utama 2,5 juta dolar AS atau sekitar Rp35,6 miliar.

“Saya tahu saya harus menggali lebih dalam,” kata Raducanu dikutip AFP dilansir Antara. “Itu adalah pertandingan yang sangat sulit tetapi saya pikir levelnya sangat tinggi. Saya harus memainkan permainan tenis terbaik saya.”

Keberhasilan itu merupakan pencapaian luar biasa bagi remaja peringkat 150 itu, yang tidak kehilangan satu set pun dalam tiga pertandingan kualifikasi dan tujuh pertandingan di babak utama selama dua pekan di lapangan keras New York.

Raducanu menjadi orang Inggris pertama yang mengeklaim mahkota US Open sejak Virginia Wade pada 1968. Seperti yang diketahui, Wade juga menjadi perempuan Inggris terakhir yang mengambil gelar tunggal Grand Slam pada 1977 di Wimbledon.

Ratu Elizabeth II termasuk orang pertama yang memberikan penghormatan atas kemenangan luar biasa Raducanu.

“Ini adalah pencapaian luar biasa di usia yang begitu muda, dan merupakan bukti kerja keras dan dedikasi Anda,” kata pemimpin kerajaan Inggris itu dalam sebuah pernyataan.

Wade dan legenda tenis putra Inggris, Tim Henman, juga 23.700 penonton, menjadi saksi sejarah di Stadion Arthur Ashe untuk final Slam putri pertama antara pemain yang tidak masuk unggulan.

“Sangat berarti ada Virginia dan juga Tim di sini, mereka adalah legenda dan ikon Inggris. Mengikuti jejak mereka memberi saya keyakinan bahwa saya benar-benar bisa melakukannya,” kata Raducanu.

Raducanu adalah juara US Open termuda sejak Williams pada 1999 dan juara putri US Open pertama yang tidak kehilangan satu set pun sejak Williams pada 2014.

Pertarungan para talenta ajaib itu adalah final Slam untuk pemain remaja pertama sejak Serena Williams yang berusia 17 tahun mengalahkan Martina Hingis yang berusia 18 tahun untuk memperebutkan mahkota US Open pada 1999.

“Kami berdua bermain tenis tanpa rasa takut selama dua pekan,” kata Raducanu. “Saya harap kami saling bermain di lebih banyak turnamen dan semoga final.”

“Ini menunjukkan masa depan tenis putri,” katanya.

Raducanu memiliki pengalaman Grand Slam paling sedikit dibanding para pemenang Grand Slam putri mana pun. Dia mencapai putaran keempat pada bulan Juli di Wimbledon, satu-satunya penampilan Grand Slam Raducanu sebelumnya.(ant/tin/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Mobil Terperosok di depan RSAL dr Ramelan A.Yani

Antre Vaksin di T2 Juanda

Kebakaran Lahan Kosong Darmo Permai

Surabaya
Senin, 27 September 2021
28o
Kurs