Kamis, 9 Februari 2023

Kisah Suharto Mantan Atlet SEA Games, dari Tukang Becak Jadi Pegawai Bapenda Gresik

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Suharto (mantan atlet balap sepeda peraih medali emas pada SEA Games 1979 yang sebelumnya selama puluhan tahun menjalankan profesi sebagai tukang becak merangkap pemulung), diangkat oleh Gubernur Khofifah sebagai pegawai Bapenda sebagai pegawai di UPT Bapenda Gresik pada Senin (17/10/2022). Foto:

Suharto mantan atlet balap sepeda peraih medali emas pada SEA Games 1979 yang sebelumnya selama puluhan tahun menjalankan profesi sebagai tukang becak merangkap pemulung, diangkat menjadi petugas keamanan di UPT Balai Pendapatan Daerah (Bapenda) Gresik, Jawa Timur sejak bulan Mei tahun 2022.

Kisah Suharto ini bermula saat bertemu dengan Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur saat bulan puasa lalu.

“Dua hari sebelum lebaran Idul Fitri Mei lalu saya keliling daerah. Sampai di Gresik sudah saat buka puasa. Saya berbagi makanan berbuka sembari bagi sembako untuk penarik becak. Saat itu di antara penarik becak ada yang angkat tangan bersuara lantang bahwa beliau pernah meraih medali emas pada SEA Games juga medali perak open tournament sepeda balap di Thailand dan China. Namanya Suharto. Saat itu beliau penarik becak merangkap pemulung,” tutur Khofifah saat menyerahkan bantuan zakat produktif bagi para pelaku usaha ultra mikro di sela peresmian Kantor Bersama Samsat Gresik, Senin (17/10/2022).

Khofifah melanjutkan, ketika ditanya nomor handphonenya agar bisa berkoordinasi untuk tindak lanjut pemberian intervensi, Suharto menjawab bahwa ia tidak memiliki ponsel. Sehingga ia meminta alamat Suharto, lalu keesokan harinya Khofifah mengirim ponsel kepada pria ini.

“Keesokan harinya beliau ditemui Kepala Bapenda dan diajak menjadi karyawan Bapenda di UPT. Gresik. Alhamdulillah sampai saat ini beliau sehat,” tegas Gubernur.

Sebagaimana diketahui, Suharto ini sempat viral akibat kondisi hidupnya yang memprihatinkan. Pasalnya prestasi Suharto saat muda begitu gemilang. Ada sederet prestasi yang telah ia torehkan sebagai atlet balap sepeda.

Di tahun 1976, Suharto diketahui meraih juara 2 perorangan dan beregu 2000 km di Thailand. Kemudian di tahun 1977 Suharto berhasil memecahkan rekor PON Nasional untuk nomor individual time trial (ITT) dan team pursuit.

Di tahun 1978 Suharto juga sempat mengikuti Olympiade di Montreal Jerman namun kurang beruntung dan tidak dapat nomor juara karena ia mengalami kecelakaan saat mengayuh sepeda di sana. Tidak hanya itu di tahun 1978 ia juga juara 3 Open Tournament di China, serta juara 1 di SEA Games Kuala Lumpur tahun 1979.

Namun dengan prestasi segudang, di masa tuanya, Suharto justru menghidupi keluarga dengan mengayuh becak bahkan juga memulung untuk mencari nafkah. Sebagaimana diketahui Suharto sempat menjadi tukang becak sejak selama 20 tahun lalu. Tentu hal ini menjadi hal yang begitu kontras.

Dalam kesempatan ini, Suharto yang turut menjadi penerima zakat produktif lantaran selain menjadi pegawai UPT Bapenda di Gresik, ia juga berjualan kopi di malam hari sebagai usaha menambah penghasilan.

“Kegigihan Pak Suharto layak untuk ditiru. Masa mudanya beliau sungguh gemilang prestasinya. Semoga kita semua dilimpahkan rezeki yang lancar dan berkah oleh Allah SWT,” tutur Khofifah.

Dalam kesempatan itu, Suharto juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan testimoninya. Secara khusus Suharto menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Pemprov Jatim.

Ia menceritakan bahwa dirinya adalah atlet balap sepeda yang berhasil mengibarkan merah putih di luar negeri, namun selama ini ia kurang mendapatkan perhatian.

“Sebelum kerja di Bapenda saya tukang becak, juga jadi pemulung cari rongsokan di jalan. Lalu ketemu ibu Gubernur saat membagi sembako, saya cerita prestasi-prestasi saya. Saat ditanya nomor HP saya nggak punya, besoknya langsung dikirim HP, dan berlanjut hingga diberi pekerjaan,” pungkas Suharto.(rum/ipg)

Berita Terkait