Tim panjat tebing Indonesia berhasil mengawinkan medali emas nomor speed perorangan dalam ajang World Climbing Series Chamonix di Prancis, Minggu (12/7/2026).
Dua medali emas Indonesia dipersembahkan Desak Made Rita Kusuma Dewi dari speed perorangan putri dan Veddriq Leonardo dari speed perorangan putra. Selain itu, Indonesia juga meraih satu medali perak speed perorangan putra melalui Antasyafi Robby Al Hilmi.
Desak Made tampil stabil sepanjang seri Chamonix. Kemenangan ini menjadi gelar pertamanya di seri tersebut. Medali emas ini terasa semakin manis karena pada seri sebelumnya di Krakow, Polandia, Desak Made juga sukses membawa pulang medali emas.
Pada babak final, Desak Made menghadapi atlet Italia, Giulia Randi. Desak tampil all out dan menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 6,22 detik. Sementara Giulia mencatatkan waktu 6,51 detik.
Medali perunggu nomor speed perorangan putri diraih Capucine Viglione dari Prancis. Ia mengalahkan Isis Rothfork dari Amerika Serikat dengan catatan waktu 6,41 detik, sedangkan lawannya 6,53 detik.
Desak Made mengaku senang bisa mempersembahkan medali emas untuk Indonesia. Ia menilai penampilannya di babak final berjalan baik dan bisa menikmati pemanjatan.
“Malam ini, saya tampil dengan performa terbaik. Saya sangat senang bisa memenangkan medali emas ini untuk negara saya dan tim saya. Dalam benak saya, saya selalu bilang mari lakukan yang terbaik,” ujar Desak Made seusai pertandingan, seperti dikutip laman Kemenpora.
Sementara itu, di speed perorangan putra, final mempertemukan dua atlet Indonesia, yakni Veddriq Leonardo dan Antasyafi Robby Al Hilmi. Veddriq keluar sebagai juara setelah mencatatkan waktu 4,89 detik, sedangkan Robby meraih perak dengan waktu 5,11 detik.
Medali perunggu nomor speed perorangan putra diraih atlet Jepang, Ryo Omasa, setelah mengalahkan atlet Tiongkok, Yicheng Zhao. Ryo unggul sangat tipis dengan catatan waktu 4,701 detik, sedangkan Yicheng mencatatkan waktu 4,704 detik.
Veddriq mengaku sangat bersyukur atas medali emas tersebut. Apalagi, ini menjadi emas pertamanya setelah meraih medali emas di Olimpiade. “Saya berasa sangat bersyukur. Apalagi ini medali emas pertama saya usai Olimpiade. Terima kasih atas dukungannya,” kata Veddriq.
Ia mengakui sebelumnya belum bisa memanjat dengan sempurna karena belum dapat berlatih secara maksimal. Namun, Veddriq tetap berusaha memberikan penampilan terbaik di Chamonix. “Saya berusaha dengan maksimal dan ini adalah pencapaian yang nyata. Saya sangat bersyukur dengan pencapaian ini,” ungkapnya.
Fitriyani Asisten Pelatih Speed Indonesia juga bersyukur atas pencapaian para atlet. Menurutnya, seluruh atlet tampil total meski tidak menjalani latihan khusus setelah tampil di Krakow, Polandia. Tim Indonesia hanya melakukan penyesuaian dengan kondisi di Chamonix.
“Meskipun dengan segala keterbatasan yang ada, para atlet mampu menampilkan yang terbaik. Mereka sudah tampil dengan maksimal dan mempersembahkan yang terbaik untuk Indonesia. Kami sangat bangga akan pencapaian ini. Saya juga mengucapkan terima kasih untuk seluruh masyarakat Indonesia yang senantiasa mendoakan kami,” ujarnya. (bil/iss)

NOW ON AIR SSFM 100

