Namun, ia menegaskan setiap kemenangan harus diraih melalui proses yang sportif dan sesuai dengan nilai-nilai olahraga.
“Alat ukur olahraga sukses itu bukan di penataan saja tapi ujung-ujungnya ada di prestasi. Karena itu bagaimana kita menghasilkan prestasi dengan cara-cara yang terhormat. Cara yang terhormat itu metodologinya, mekanismenya, latihannya juga pada saat pertandingannya. Tidak ada cara-cara yang lain karena itu akan bertentangan dengan filosofi sport. Sportif itu kan terbuka, jujur atau adil,” ujarnya.
Nabil menjelaskan konsep sport intelligence mencakup identifikasi kemampuan atlet sendiri, pemetaan kekuatan lawan, hingga penyusunan strategi berdasarkan analisis data. Meski hasil pertandingan juga dipengaruhi faktor keberuntungan, menurutnya keberhasilan harus diawali dengan perencanaan yang matang.
“Tentu terhormat itu apa? Dia keahlian, dia kemampuan, yang mengidentifikasi kemampuan diri, mengidentifikasi kemampuan lawan, kemudian di situ ada sebuah kesimpulan. Memang ujung-ujungnya pada akhirnya pada saat di pertandingan memang ada sebuah aspek keberuntungan dan keberhasilan,” katanya.
Ia menambahkan proses pembinaan harus dimulai dari rekrutmen atlet dan pelatih berbasis data, program latihan yang terukur, uji tanding, hingga penguatan mental dan spiritual atlet.

NOW ON AIR SSFM 100

