KONI Jawa Timur (Jatim) menegaskan pentingnya penerapan sport intelligence sebagai bagian dari sistem pembinaan olahraga prestasi.
Pendekatan tersebut dinilai mampu memperkuat proses pengambilan keputusan berbasis data, mulai dari rekrutmen atlet hingga penyusunan strategi menuju kompetisi.
M. Nabil Ketua KONI Jatim mengatakan, sport intelligence tidak hanya berkaitan dengan pengumpulan dan pengelolaan data, tetapi juga menjadi landasan dalam menyusun kebijakan pembinaan olahraga yang berorientasi pada pencapaian prestasi.
“Inteligen ini menjadi bagian penting dalam kerangka pembinaan metodologi penggalian data, pengelolaan data dan kebijakan. Tapi itu ujung-ujungnya, seperti saya sampaikan tadi, bagaimana sebuah karya sport intelligence ini ujung-ujungnya adalah berhasil memberikan sebuah prestasi,” kata Nabil kepada awak media pada Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, keberhasilan pembinaan olahraga tidak cukup diukur dari tertatanya sistem organisasi, melainkan harus dibuktikan melalui capaian prestasi atlet di arena pertandingan.
Namun, ia menegaskan setiap kemenangan harus diraih melalui proses yang sportif dan sesuai dengan nilai-nilai olahraga.
“Alat ukur olahraga sukses itu bukan di penataan saja tapi ujung-ujungnya ada di prestasi. Karena itu bagaimana kita menghasilkan prestasi dengan cara-cara yang terhormat. Cara yang terhormat itu metodologinya, mekanismenya, latihannya juga pada saat pertandingannya. Tidak ada cara-cara yang lain karena itu akan bertentangan dengan filosofi sport. Sportif itu kan terbuka, jujur atau adil,” ujarnya.
Nabil menjelaskan konsep sport intelligence mencakup identifikasi kemampuan atlet sendiri, pemetaan kekuatan lawan, hingga penyusunan strategi berdasarkan analisis data. Meski hasil pertandingan juga dipengaruhi faktor keberuntungan, menurutnya keberhasilan harus diawali dengan perencanaan yang matang.
“Tentu terhormat itu apa? Dia keahlian, dia kemampuan, yang mengidentifikasi kemampuan diri, mengidentifikasi kemampuan lawan, kemudian di situ ada sebuah kesimpulan. Memang ujung-ujungnya pada akhirnya pada saat di pertandingan memang ada sebuah aspek keberuntungan dan keberhasilan,” katanya.
Ia menambahkan proses pembinaan harus dimulai dari rekrutmen atlet dan pelatih berbasis data, program latihan yang terukur, uji tanding, hingga penguatan mental dan spiritual atlet.
“Tapi yang paling penting kita sudah melakukan perencanaan, rekrutmen data dari calon atlet, rekrutmen data dari calon pelatih, kemudian melakukan latihan, melakukan lawan tanding atau try out, melakukan penguatan-penguatan mental spiritualnya mereka. Nah, itu sebuah ikhtiar bagian ujung-ujungnya adalah bagaimana menang kita,” ucapnya.
Untuk memperkuat implementasi sport intelligence, KONI Jawa Timur berencana menindaklanjuti kerja sama dengan kalangan akademisi. Nabil mengaku telah berdiskusi dengan pimpinan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), termasuk Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK), guna mengembangkan kajian yang lebih aplikatif bagi dunia olahraga.
“Tadi saya coba diskusi dengan Pak Rektor Unesa, Pak Dekan FIKK. Bagaimana ini ditindaklanjuti bersama KONI nanti dengan komunitas-komunitas yang lebih representatif dan spesifik,” ujarnya.
Menurut Nabil, kolaborasi tersebut akan melibatkan praktisi olahraga, dosen, peneliti, hingga mahasiswa program magister dan doktoral agar pengembangan sport intelligence memiliki dasar akademik yang kuat sekaligus dapat diterapkan secara nyata dalam pembinaan atlet.
Ia menjelaskan, sport intelligence merupakan sistem yang mencakup pengumpulan data atlet, proses pembinaan, pengelolaan informasi, hingga penyusunan kebijakan yang mendukung pencapaian prestasi olahraga secara berkelanjutan.
“Sport intelligence itu melakukan pengambilan data atlet, melakukan pembinaan, melakukan pengelolaan, kemudian melakukan kebijakan. Nah, kebijakan ini pada pilihan-pilihan itu. Policy-nya bagaimana kita memberikan poin menang, poin menang tapi dengan cara yang terhormat,” tegasnya. (saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

