Port FC harus mengubur ambisi mempertahankan gelar Piala Presiden 2026 setelah takluk 2-1 dari Persebaya pada laga terakhir Grup B di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, Sabtu (1/8/2026) malam.
Sarawut Treephan Pelatih Port FC mengaku sangat kecewa dengan hasil tersebut. Menurutnya, timnya memiliki kualitas yang baik, tetapi kehilangan satu pemain di babak kedua menjadi titik balik pertandingan.
“Kami sangat menyayangkan hasil ini. Kami adalah tim yang bagus, tetapi hal yang paling krusial adalah kami kehilangan satu pemain di babak kedua,” kata Sarawut.
Port FC sempat unggul lebih dulu 1-0, tapi gagal mempertahankan keunggulan. Sarawut menilai timnya terlalu mudah kebobolan hingga akhirnya Persebaya membalikkan keadaan menjadi 2-1.
“Kami sempat unggul 1-0, tetapi kemudian kebobolan dengan sangat mudah. Di awal babak kedua kami kembali kebobolan gol mudah. Ini yang harus kami benahi saat kembali ke Thailand,” katanya.
Selain kartu merah, Sarawut juga menyoroti cedera yang dialami salah satu pemainnya. Menurutnya, kondisi itu cukup mengganggu karena Port FC memiliki opsi pemain pengganti yang terbatas. “Yang paling penting sekarang adalah pemain kami yang cedera bisa segera menjalani pemulihan,” ucapnya.
Kekecewaan serupa juga disampaikan Michael Aksel Bataican penjaga gawang Port FC. Ia mengakui timnya gagal menunjukkan performa terbaik dalam dua pertandingan terakhir meski datang ke Indonesia sebagai juara bertahan.
“Ini kekecewaan besar bagi kami sebagai juara bertahan karena tidak mampu tampil lebih baik,” ujarnya.
Meski demikian, Michael memberikan apresiasi kepada seluruh tim peserta Piala Presiden 2026. Menurutnya, klub-klub Indonesia memiliki kualitas yang membuat pertandingan berjalan tidak mudah.
“Kami sangat menghormati semua tim di sini. Tidak mudah bermain menghadapi mereka, apalagi kami harus bermain dengan 10 orang. Saat tertinggal 2-1, situasinya menjadi sangat sulit. Kami sudah mencoba segalanya, tetapi hari ini bukan rezeki kami,” pungkasnya.(ris/bil/iss)







