Senin, 28 September 2020
Cahaya Islam

17 Jam Berpuasa di Negeri Paman Sam

Laporan oleh Larasati Putri Ayuningtyas
Bagikan
Listi di depan Bus Kampus Michigan University. Foto: Dok. pribadi

Di Indonesia, umat muslim menjalankan ibadah puasa sekitar 14 jam sehari. Dalam rentang waktu tersebut, kita bisa saja mengalami dehidrasi karena kekurangan cairan selama berpuasa. Bisakah Anda membayangkan, kawan kita di Amerika Serikat harus berpuasa selama 17 jam ditambah jarak waktu berbuka puasa dan sahur yang hanya berselang 5 jam? Simak kisah Listiani Airin berikut ini.

Mahasiwa yang sedang menempuh master di Michigan University Amerika Serikat ini harus menjalani ibadah puasa dengan perjuangan ekstra tahun ini, karena bertepatan dengan musim panas. Sudah pasti, cuaca sangat menyengat selama sekitar 17 jam, mulai dari pukul 04.30 pagi sampai 21.30 malam. Dengan suhu yang relatif panas (sumuk mirip Surabaya), membuat terasa semakin penuh perjuangan,” Kata Listi. Sudah pasti, “musuh” utama berpuasa di musim panas adalah rasa haus yang mendera.

Tak hanya waktu berpuasa yang panjang, Listi juga harus beradaptasi dengan waktu berbuka dan sahur yang dekat, yakni jeda 5 jam. “Waktu berbuka sekitar jam 21.30 dan sahur sekitar jam 03.00 atau 03.30. Rasanya masih kenyang tapi sudah harus makan lagi, ” Ujar Alumni Biologi ITS ini. Untuk menyiasati dekatnya waktu berbuka dan sahur, Listi tidak punya resep khusus, hanya saja dia mengurangi takjil saat berbuka, mengurangi porsi sahur dan lebih mengakhirkan sahur, sehingga tidak terlalu kenyang.

Katika ditanya mengenai bagaimana resep sehari-hari saat berbuka puasa, Lisi menjawab dirinya adalah chef untuk diri sendiri. “Untuk menjaga ke-halal-an makanan, saya masak sendiri. Untuk bahan-bahannya biasanya beli di Islamic Centre, harganya memang lebih mahal dibanding dengan makanan non halaL, atau biasanya beli di walmart cari makanan yang kemasannya ada label halal, ,” kata dosen Universitas Borneo Tarakan ini.

Berbeda dengan Indonesia yang negara mayoritas muslim, suara adzan di Michigan menjadi sesuatu yang langka. Sebagai penunjuk waktu sholat dan berbuka, Listi dimudahkan dengan kecanggihan teknologi. Tak hanya itu, keberadaan komunitas masjid kampus juga membantu Listi dalam beribadah.

“Saya mempunyai aplikasi waktu shalat yang memberitahu kapan waktunya shalat. Selain itu, masjid di kampus juga membagikan jadwal shalat selama Ramadhan,” ungkapnya.

Michigan memiliki banyak komunitas muslim, baik asli Amerika maupun pendatang dari Timur Tengah. Inilah yang menjadikan kampus Listi memiliki Islamic Center, tempat kegiatan mahasiswa muslim berpusat. Mulai buka puasa bersama hingga tarawih berjamaah.

“Sayangnya, saya jarang ikut tarawih berjamaah di kampus, karena biasanya terawih baru dimulai pukul 23.00 lebih sedangkan bus terakhir jam 21.57,” kata Listi.

Listi memang tergantung dengan bus kampus, karena peraturan kampus kepada penerima beasiswa seperti dirinya adalah dilarang membawa mobil.

Berpuasa di negeri Paman Sam yang mayoritas penduduknya bukan muslim, justru membuat Listi merasa penuh syukur. Pasalnya, mayoritas penduduk Amerika Serikat terutama di Michigan sudah sangat toleran dengan Islam. Hawa Toleransi ini membuat sejuk di tengah puasa 17 jam di musim panas.

Semangat Listi! Semoga puasa istiqomah hingga hari kemenangan. (ras/ipg)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Widya Qhodarum M.S

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Senin, 28 September 2020
31o
Kurs