Senin, 28 September 2020
Cerita Netter Ramadan di Negara Pandemi Covid-19

Protokol Harus Dijalankan, Agar Nyaman Beribadah Ramadan

Laporan oleh M. Hamim Arifin
Bagikan
Cerita Netter Suara Surabaya Media di Negara Pandemi Covid-19: Jakarta.

Ramadan tahun ini berbeda di banyak tempat, terutama di negara pandemi Covid-19. Di Indonesia, ada kota-kota yang menjadi zona merah penyebaran Covid-19 dan sebagian sudah dilakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Jakarta adalah daerah pertama yang menerapkannya. PSBB dilakukan sejak 10 April lalu dan sedianya berlangsung hingga 22 Mei nanti. Bagaimana warganya menjalankan ibadah Ramadan di sana?

Hari ini (26/4/2020), Faiz Fajarudin seorang pangakses Suara Surabaya Media bercerita pada kami tentang situasi ramadan di Jakarta yang sudah berjalan dua hari. Faiz tinggal di perumahan Kelurahan Rawa Jati, Pancoran Jakarta Selatan. Di kelurahan ini, ada 5 warga yang tercatat positif Covid-19 per Sabtu (25/4/2020).

Kata Faiz, masjid di kompleknya masih dibuka hanya untuk menunaikan salat wajib 5 waktu. Tapi jemaah yang hadir tidak sebanyak biasanya. Setiap salat yang biasanya lima sampai tujuh shaf, dua hari ini satu shaf pun tidak penuh.

“Sejak PSBB kedua (23/4/2020), masjid ini sudah tidak melaksanakan salat Jumat, tarawih juga tidak,” katanya saat dihubungi via telepon.

Menurut Faiz, warga di kompleknya patuh pada protokol pencegahan Covid-19. Misalnya, menyediakan air dan sabun untuk cuci tangan di depan rumah dan memakai masker jika ke luar rumah untuk beraktivitas.

Pasar tumpah di tempatnya masih ramai, tapi ada jarak antar penjual. Jam bukanya hanya sampai pukul 10.00 WIB. Sore, kawasan tersebut dipakai untuk jual-beli takjil. Tapi transaksinya lebih rapi. Warga pesan lewat telepon ke penjualnya, lalu diambil menjelang berbuka.

Dalam Pergub DKI Jakarta tentang pelaksanaan PSBB di Jakarta, kegiatan yang menimbulkan kerumunan dilarang. Karenanya, Faiz dan keluarga mengatasi keterbatasan tersebut dengan memilih toko yang menerapkan protokol pencegahan, seperti memiliki pengecekan suhu tubuh, menyediakan air dan sabun untuk cuci tangan serta menerapkan pembatasan fisik (physical distancing).

Paling tampak perbedaannya menurut Faiz adalah lalu lintas Jakarta yang tidak semacet biasanya. Sore hari setiap Ramadan, lalu lintas lebih macet dari hari-hari selain Ramadan. Karena banyak warga pulang kerja mengejar waktu berbuka puasa bersama keluarga di rumah. Tapi dua hari ini, lalu lintas lengang karena banyak orang sudah berada di rumah sebelum berbuka puasa.

“Mungkin juga karena sudah banyak yang pulang kampung sebelum Ramadan kemarin”, kata Faiz.

Kegiatan olahraga ringan juga tidak ada. Seperti lari dan bersepeda di area stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan. Menurut Faiz, kawasan tersebut selalu ramai oleh warga yang melakukan jogging dan olahraga ringan lainnya setiap sore saat Ramadan. Tapi tahun ini aera GBK ditutup karena PSBB.

Faiz yang sehari-harinya adalah reporter media massa juga mengatakan, bahwa semua ini ada hikmahnya. Meski tidak semua orang bisa merasakannya.

“Biasanya buka puasa di luar karena liputan, sekarang bisa di rumah. Sering kumpul sama keluarga dan kedua anak saya jadi sering bertemu,” katanya.

Selain itu, kebiasaan menjaga kebersihan diri menjadi hikmah lain dari masa pendemi ini.

“Semoga terbiasa sampai seterusnya,” pungkasnya.(ham/tin)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Widya Qhodarum M.S

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Senin, 28 September 2020
32o
Kurs