Senin, 28 September 2020
Cerita Netter Ramadan di Negara Pandemi Covid-19

Beribadah Ramadan di Negara ‘Santai’

Laporan oleh M. Hamim Arifin
Bagikan
Ilustrasi. Cerita Netter Suara Surabaya Media di Negara Pandemi Covid-19: Stockholm Swedia. Grafis: suarasurabaya.net

Ramadan di semua negara terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, termasuk Swedia. Meski tidak melakukan lockdown dan mengizinkan kehidupan warganya berjalan normal, tapi mereka memiliki prinsip sangat kuat tentang menjalankan aturan di tengah pandemi Covid-19. Hal itu juga berdampak pada ibadah Ramadan yang dijalankan oleh sebagian warganya.

Artika Rachmi Farmita, warga Surabaya yang sedang menempuh studi S2 jurusan Media Management di KTH Royal Institute of Technology Stockholm bercerita tentang Ramadan tahun ini di Stockholm.

Puasa di Swedia berlangsung 17-18 jam, dari pukul 03.00 sampai pukul 21.00 waktu setempat. Dengan durasi itu, Artika banyak menghabiskan waktu Ramadan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan Diaspora Indonesia di Swedia, termasuk pengajian.

Tapi karena imbauan physical distancing, maka kegiatan-kegiatan yang mendatangkan banyak massa ditiadakan. Pemerintah Swedia sebenarnya masih mengizinkan berkumpul, tapi maksimal 50 orang dan menjaga jarak. Tapi risiko itu tidak pernah diambil oleh warganya.

Juga, pintu-pintu masjid yang setiap Ramadan terbuka lebar, sekarang ditutup. Tidak ada lagi salat berjemaah, salat Jumat, termasuk salat tarawih.

“Tahun lalu, buka puasa di masjid adalah yang paling menyenangkan selama Ramadan, karena muslim di Swedia merupakan minoritas. Tapi sekarang, semuanya serba terbatas”, kata Artika saat dihubungi suarasurabaya.net via telpon, Sabtu (2/5/2020).

Begitu juga dengan sahur. Ibadah sepertiga malam yang biasanya dilakukan bersama teman-teman dari PPI itu, sekarang dilakukan sendiri-sendiri di kamar masing-masing.

 

View this post on Instagram

 

Meski banyak yang menilai santai, masyarakat Swedia tetap menjalankan protokol pencegahan Covid-19 dengan latar budaya dan pendidikan yang mereka miliki. Imbauan sudah seperti aturan tertulis yang harus dipatuhi. Hal ini membuat ibadah Ramadan tetap bisa dijalankan dengan nyaman di sana. Walaupun, masjid-masjid ditutup yang tidak memungkinkan melakukan salat secara berjemaah. . Berikut adalah Artika Rachmi Farmita, warga Surabaya yang sedang menempuah studi S2 jurusan Media Management di KTH Royal Institute of Technology Stockholm, tentang Ramadan tahun ini di Stockholm. . Cerita selengkapnya bisa Kamu baca di Cerita Netter suarasurabaya.net. . #ceritanetter #suarasurabaya #suarasurabayamedia #radiosuarasurabaya #swedia #stockholm #ramadan #ramadandinegarapandemi #covid19 #corona #coronavirus #ramadandirumah

A post shared by SUARA SURABAYA FM 100 (@suarasurabayamedia) on

Sekadar diketahui, per Kamis (30/4/2020) kasus positif Covid-19 di Swedia berjumlah 20.320 dan 7.835 di antaranya berada di Stockholm. Sekolah TK sampai SMP masih masuk, sedangkan kegiatan belajar SMA dan kampus diadakan secara online/dari rumah.

Di Stockholm, toko-toko dan restoran masih buka dengan beberapa aturan. Jalanan dan taman masih dikunjungi warga, meski tidak seramai biasanya. Hal ini dinilai aneh mengingat negara-negara di Eropa lainnya menerapkan lockdown dan menutup restoran.

Trem dan metro (kereta bawah tanah) masih beroperasi, tempat duduknya normal tanpa jarak. Tapi setiap dua menit sekali, ada imbauan dari pengeras suara agar diam di rumah dan tidak melakukan perjalanan jika perlu.

Menurut Artika, fakta menarik itu dipengaruhi aspek budaya, latar belakang pendidikan sampai politik warganya. Sense of physical distancing warga lokal sangat mempengaruhi pola pikir Artika dan teman-teman PPI Swedia.

“PPI tidak mengadakan acara sejauh (Ramadan) ini. Mau berkunjung satu sama lain pun kami beneran concern minta izin ke penghuni lainnya,” katanya.

Bahkan pernah suatu saat, Artika naik bus SL yang tempat duduknya tidak diberi jarak. Saat dia naik dan duduk di samping penumpang lainnya yang merupakan warga lokal, penumpang tersebut langsung pindah. Artika mengatakan, warga di sana menilai imbauan di Swedia sudah seperti peraturan yang harus dipatuhi.

“Rada gak enak sebenarnya waktu itu, tapi dari situ saya dan teman-teman jadi tahu,” kenangnya.

Saat ditanya kesulitan menjalankan ibadah di Stockholm, Artika tidak banyak memberi deskripsi selain masjid yang tutup. Karena hampir tidak ada fasilitas umum yang berhenti. Jadi, dia dan temannya masih bisa bertemu saat belanja ke Asian market atau sore-sore bermain basket.

We try to keep everything as calm as we can. Ya dengan sesekali main ke kamar teman buat buka puasa dan ngaji online dengan muslim Indonesia di Denmark,” kata Artika.

Banyak negara lain menilai kalau Swedia ‘santai’ menghadapi pandemi Covid-19 ini. Tapi menurut Artika, percayalah, seperti semua negara, Swedia punya komitmen untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

“Ramadan di Swedia tetap seru kok, dengan berbeda cara saja. Semoga kalian di Indonesia tetap aman juga ya. Saling mendoakan,” pungkas Artika. (ham/ipg)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Senin, 28 September 2020
30o
Kurs