Senin, 27 Mei 2024

Atikoh Sebut Program Satu Keluarga Satu Sarjana Juga Untuk Keluarga Guru, TNI, dan Polri

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Siti Atikoh Supriyanti saat berdialog dengan ratusan santriwan dan santriwati serta pengajar saat bersilaturahmi ke Pondok Pesantren (Ponpes) Syifaul Qulub Lil Mutaallimin di Sindanglaya, Cinangka, Serang, Banten, Selasa (6/2/2024). Foto : istimewa

Siti Atikoh Supriyanti istri Ganjar Pranowo capres nomor 3 tiga berdialog dengan ratusan santriwan dan santriwati serta pengajar saat bersilaturahmi ke Pondok Pesantren (Ponpes) Syifaul Qulub Lil Mutaallimin di Sindanglaya, Cinangka, Serang, Banten, Selasa (6/2/2024).

Seorang peserta lantas bertanya kepada Atikoh soal kemungkinan Ganjar Pranowo dan Mahfud Md paslon nomor urut 3 punya program beasiswa kepada anak guru seperti dimiliki sang kompetitor Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar atau AMIN.

Latar belakang anak santri penanya itu adalah setara kelas 3 SMA, dimana ayah tidak bekerja dan ibunya seorang guru TK sebagai pemberi nafkah utama. Ia sulung dengan tiga orang adik masih kecil-kecil.

Setiap akhir bulan, ketika honor sang ibu belum dibayar, sekeluarga selalu pusing. Dan ia merasa harapan berpendidikan tinggi sangat rendah. Itu maka program bantuan untuk keluarga guru menggugah hatinya.

Atikoh menjawab itu dengan menyebut paslon Ganjar-Mahfud bukan hanya memberikan beasiswa kepada anak guru semata.

Dia menyebut Ganjar-Mahfud punya program Satu Keluarga Satu Sarjana yang membuat setiap anak dari rumah tangga tak mampu punya kesempatan memperoleh gelar sarjana.

Program tersebut bukan hanya menyasar kelaurga guru, namun juga anak dari personel TNI atau Polri dengan pangkat rendah bisa mengakses program Satu Keluarga Satu Sarjana. Hal ini terinspirasi juga dari Ganjar Pranowo, anak seorang polisi berpangkat rendah yang berjuang keras untuk biaya pendidikan.

“Jadi, bukan cuma anak guru yang punya kesempatan, anak TNI dan Polri juga punya kesempatan dan anak kurang mampu juga mendapat kesempatan. Kalau di Ganjar-Mahfud itu, kalau berasal dari keluarga tidak mampu, tidak harus yang prestasinya itu mentereng, karena kalau lihat orang dari keluarga mampu, pastinya berbeda dari keluarga tidak mampu,” kata Atikoh menjawab pertanyaan peserta dialog, Selasa.

Namun, dia menekankan, program Satu Keluarga Satu Sarjana bukan untuk anak dari rumah tangga mampu atau berkategori kaya.

Sebab, Atikoh menyebut orang tua dari keluarga berkategori kaya biasanya bisa menyekolahkan anak masing-masing dengan memilih tempat terbaik.

“Tentu beda dengan keluarga mampu, mereka bisa memilih sekolahan sesuai seleranya, mulai dari TK, yang mahal-mahal itu,” kata mantan wartawan itu.

Atikoh melanjutkan Ganjar-Mahfud selain memiliki Satu Keluarga Satu Sarjana, punya pula program SMK Negeri gratis.

Menurutnya, program itu memungkinkan anak di Indonesia bersekolah dengan kejurusan, lalu bisa bekerja setelah lulus, sembari melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

“Jadi, ada yang SMK mereka sengaja ke situ agar bisa bekerja dengan cepat dan sambil bekerja, kalau yang keluarga tidak mampu saya justru senang disitu, mereka tough sekali, semangat, tegar, bersyukur sekali mendapat kesempatan,” katanya.

Atikoh meyakinkan, bahwa program SMk kejuruan ini pasti bisa diwujudkan karena Ganjar Pranowo sudah mewujudkannya di Jawa Tengah saat menjabat gubernur. Jadi bukan hanya janji manis semata.

Ia mengingat saat menjadi ibu Gubernur Jateng, kerap berkunjung dan mengecek alumni SMK kejuruan. 100 persen bekerja, ada lulusannya yang menyiapkan pendidikan ke jenjang lebih lanjut di universitas, sembari tetap bekerja. Ada yang sudah berhasil membangunkan rumah orang tuanya.

“Anak dari keluarga tidak mampu, saya melihat justru seneng disitu, mereka tough sekali, semangat, tegar, bersyukur sekali mendapat kesempatan. Jadi kerja keras, belajar keras. Saya sering keliling ke SMK-SMK dan sangat terharu, mereka yang awalnya kepercayaan dirinya kurang, begitu sekolah di situ menjadi sosok-sosok yang luar biasa,” urai Atikoh.

“Dan ada yang bekerja, ada yang bisa membangunkan rumah untuk orang tuanya. Mas Ganjar itu juga keliling ke alumni itu, (dan mereka berkata) oh pak saya sudah bisa membuatkan rumah untuk ortu saya. Mas Ganjar nginep disana,” tambahnya.

Maka kepada santri yang bertanya, Atikoh lalu berpesan. Si anak mendengar dengan takzim dan wajah serius, serta menjadi lebih cerah setelah mendengar penjelasan Atikoh.

“Belajar terus ya nak, semangat. Kamu harus berbakti dengan orang tua kamu,” kata Atikoh dengan lembut.(faz/iss)

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Bus di Trowulan Mojokerto

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Surabaya
Senin, 27 Mei 2024
25o
Kurs