Pertemuan Donald Trump Presiden Amerika Serikat dengan Xi Jinping Presiden China di Beijing, Jumat (15/5/2026), dinilai bukan sebagai tanda rekonsiliasi dua negara adidaya, melainkan upaya mengelola rivalitas agar tidak berubah menjadi konflik terbuka.
Ahmad Khoirul Umam Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) mengatakan pertemuan tersebut menunjukkan persaingan Amerika Serikat dan China kini telah memasuki fase struktural yang semakin kompleks.
“Pertemuan Trump dan Xi dapat dibaca sebagai manajemen krisis antara dua kekuatan besar, bukan rekonsiliasi. Keduanya mencoba menurunkan suhu konflik, tetapi tidak menyelesaikan akar persaingan atas perebutan kepemimpinan global abad ke-21,” ujar Umam dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).
Menurut dia, penyebutan konsep Thucydides Trap oleh Xi Jinping menjadi sinyal kuat bahwa China memandang rivalitas dengan AS sebagai benturan antara kekuatan lama dan kekuatan baru yang sedang bangkit.
“Xi ingin membingkai China sebagai kekuatan yang bangkit secara sah, sementara AS diposisikan sebagai hegemon yang harus belajar hidup dalam dunia multipolar,” katanya.
Umam menilai isu Taiwan masih menjadi titik paling rawan dalam hubungan kedua negara. Bahkan, Xi disebut telah mengingatkan potensi konflik besar apabila persoalan Taiwan salah dikelola.
Di bidang ekonomi-politik, lanjut Umam, hubungan AS dan China saat ini berada dalam situasi paradoks. Di satu sisi bersaing keras, namun di sisi lain saling membutuhkan untuk menjaga stabilitas ekonomi global.
“Hubungan keduanya bukan lagi kemitraan, melainkan competitive interdependence. Mereka bekerja sama agar sistem global tidak runtuh, tetapi pada saat yang sama terus saling membatasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, minimnya terobosan konkret dalam pertemuan tersebut menunjukkan bahwa rivalitas strategis tetap menjadi fondasi utama hubungan Washington dan Beijing.
Umam juga menyoroti dampak global dari rivalitas dua negara besar tersebut. Menurutnya, dunia kini semakin bergerak menuju fragmentasi geoekonomi, di mana rantai pasok, teknologi, energi, dan mineral kritis semakin dipolitisasi.
“Negara-negara menengah seperti Indonesia akan menghadapi tekanan untuk memilih standar, pasar, dan mitra strategis. Sementara forum multilateral juga makin melemah karena keputusan besar lebih banyak ditentukan lewat kesepakatan langsung antar-kekuatan besar,” jelasnya.
Terkait situasi Timur Tengah dan ketegangan terhadap Iran, Umam menilai AS membutuhkan peran China untuk mencegah eskalasi konflik lebih luas.
“China memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan Iran dan berkepentingan menjaga jalur energi tetap terbuka. Karena itu, Beijing tidak sepenuhnya berada di belakang Iran, tetapi juga tidak akan mendukung agenda militer AS secara terbuka,” kata dia.
Umam menegaskan, pertemuan Trump dan Xi sejatinya bukan tanda meredanya rivalitas global, melainkan upaya mengatur kompetisi agar tidak berubah menjadi perang terbuka.
“Dunia kini memasuki fase yang lebih berbahaya. Krisis Taiwan, Iran, energi, teknologi, dan perdagangan saling terhubung dalam satu arena konflik geopolitik global,” pungkasnya.(faz/iss)

NOW ON AIR SSFM 100

