Kamis, 27 Februari 2020

Konsisten Melestarikan Wayang Potehi Jadi Bagian Budaya Bangsa

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Wayang Potehi. Foto: Dok./Totok suarasurabaya.net

Kalau Klenteng Boen Bio Surabaya terus melestarikan Barongsai, Klenteng Hong Tik Hian Jalan Dukuh II, Pabean Cantian, berupaya mempertahankan dan melestarikan Wayang Potehi.

Sebagai jujugan belajar Wayang Potehi, klenteng yang akrab dikenal Klenteng Dukuh oleh masyarakat Surabaya itu tidak hanya mengajarkan Wayang Potehi kepada anak-anak Tionghoa saja.

Kesenian tradisional yang berkembang di Tiongkok bagian selatan itu sudah dikembangkan di Klenteng ini sejak abad ke-17. Pertunjukan boneka ini telah menjadi bagian dari kehidupan spiritualitas.

Ong Khing Kiong Ketua Pelaksana Kerohanian Klenteng Dukuh mengatakan, kesenian ini menjadi salah satu medium penyampaian ajaran-ajaran Tridharma (Budha, Taoisme, Konfusianisme).

“Ceritanya lebih banyak tentang mitos, cerita rakyat, dan sejarah dinasti-dinasti di Tiongkok yang sarat pesan moral dan nilai-nilai kehidupan yang universal,” kata Ong Sabtu (25/1/2020).

Sama halnya dengan tradisi wayang Jawa, cerita-cerita Wayang Potehi ini juga dibawakan seorang dalang yang dalam pertunjukan diiringi tabuhan alat musik seperti tambur, kecer, dan rebab.

Klenteng Dukuh yang menurut Ong sudah berdiri sejak pemugaran pertama pada 1899 (sejak sekitar 1399) sampai sekarang jadi semacam tempat pendidikan klenteng. Wayang Potehi salah satu yang dicari.

“Kami didik anak-anak belajar Potehi. Dari luar kota juga ada, dari seluruh Indonesia. Tidak hanya untuk orang Tionghoa, tapi juga Jawa, Madura, siapapun. Penganut agama apapun,” katanya.

Bahkan beberapa di antara pemain inti Wayang Potehi di Klenteng Dukuh yang terdiri antara 5-18 anak juga ada yang bukan keturunan Tionghoa. Para pemain Potehi ini belajar sejak kecil sampai menjadi profesi.

“Sampai menjadi dalang yang sekarang sudah pentas ke mana-mana. Jadi profesi. Karena itulah tempat ibadat ini punya nilai yang sangat luar biasa, terutama bagi umat Tridharma di Surabaya,” katanya.

Terbukti, salah satu dalang senior di Klenteng Dukuh memang bukan keturunan Tionghoa. Namanya Sukar Mudjiono. Dia adalah warga asli Surabaya beragama Islam yang belajar Potehi sejak anak-anak.

Tradisinya, pertunjukan Wayang Potehi menggunakan Bahasa Hokkian. Seiring perkembangan zaman, supaya kesenian ini tetap lestari, Dalang Potehi mencampurnya dengan Bahasa Jawa atau Indonesia.

Pertunjukan Wayang Potehi di Klenteng Dukuh ini setiap hari digelar sampai tiga babak (pagi, siang, dan malam). Pertunjukan itu bahkan tetap digelar meskipun tidak ada yang menonton.

“Wayang potehi selain sudah menjadi ritual, juga sebagai edukasi dan hiburan. Setiap hari main 3 babak cerita walaupun tidak ada penonton. Sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur,” ujarnya.

Momentum Imlek atau Tahun Baru China 2571 yang jatuh pada 25 Januari 2020 ini menjadi momentum untuk melestarikan Wayang Potehi yang sarat nilai universal menjadi bagian dari budaya bangsa.(den/iss)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Antrean Tiket Pertandingan Persebaya VS Persija

Banjir Kupang Indah

Banjir di Petemon Barat

Mendung di Atas Proyek

Surabaya
Kamis, 27 Februari 2020
27o
Kurs