Jumat, 18 September 2020

Jangan Keliru, Kenali Perbedaan Antiseptik dan Disinfektan

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Ilustrasi. Ojek online di sekitar Jalan Gubernur Suryo tepatnya depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, disemprot disinfektan, pada Minggu (22/3/2020). Foto: Humas Pemprov Jatim

Istilah antiseptik dan disinfektan kini ramai dibicarakan untuk mencegah penularan Covid-19. Seperti diketahui, keduanya banyak dinilai sebagai langkah preventif untuk mencegah penularan Covid-19 sampai-sampai bahan pembuatnya menjadi langka di pasaran. Tapi apa sebenarnya perbedaan keduanya?

Berdasarkan istilah WHO, antiseptik adalah salah satu jenis disinfektan yang menghancurkan atau menghambat mikroorganisme pada jaringan hidup tanpa mengakibatkan cedera. Termasuk dalam klasifikasi ini adalah polyvidone iodine, chlorhexidine, dan alkohol. Antiseptik dalam hal ini aman untuk digunakan pada kulit.

Sedangkan, disinfektan berfungsi menghancurkan dan menghambat mikroorganisme patogen pada keadaan nonspora atau vegetatif.
Bahan-bahan berbasis kedua material yang disebut, yaitu chlorine dan etanol banyak tersedia di pasaran. Disinfektan dalam hal ini dipetuntukkan pada benda mati, biasanya dengan cara disemprot.

Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan Kepala Departemen Kimia ITS mengungkapkan, saat ini banyak sekali beredar resep atau tutorial membuat disinfektan dan antiseptik, salah satunya hand sanitizer. Bahkan, WHO juga telah memberikan resep rekomendasi membuat hand sanitizer berbasis etanol dan Iso Propyl Alcohol (IPA).

“Masalahnya, apakah masyarakat mempunyai kemampuan untuk meramu dengan benar? Bahkan di antara yang membuat tidak mengerti bagaimana memeriksa kadar alkohol dan bahan yang digunakan dengan baik,” tegasnya.

Formula WHO ini, menurut Fredy, membuat orang awam mendadak meracik bahan-bahan kimia ini sendiri. Membuat hand sanitizer sendiri menjadi pilihan masyarakat karena harga di pasaran yang melambung tinggi. Sebagian malah dijadikan sebagai peluang bisnis.

“Bahan baku etanol dan IPA menjadi langka dan harganya meningkat drastis, dari Rp 30 ribu per liter menjadi Rp 180 ribu per liter, akibatnya masyarakat menjadi panik karena menganggap hand sanitizer sebagai dewa penyelamat ,” ungkap Kepala Departemen Kimia ITS itu.

Selain hand sanitizer, di beberapa daerah, orang-orang juga mulai banyak yang membuat disinfektan mandiri untuk dipakai di rumah atau kampungnya. Padahal, pengetahuan mengenai kimia sangat diperlukan untuk meracik bahan-bahan ini.

“Bila dilakukan oleh orang yang tidak punya kompetensi dan kapabilitas yang cukup dalam meramu dan menggunakan secara benar, maka akan sangat berbahaya bagi diri sendiri, orang lain, dan juga lingkungan dalam waktu dekat dan bisa jadi jangka panjang,” kata Fredy. (bas/iss)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Radityo Jufriansah

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Jumat, 18 September 2020
30o
Kurs